Amal Wajib adalah Jalan Utama Mendekatkan Diri kepada Allah
Kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak cukup hanya diungkapkan melalui perkataan. Seorang muslim harus membuktikannya dengan mengikuti ajaran dan keteladanan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara lahir maupun batin. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. dalam kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Sabtu (11/07/2026).
Kecintaan
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak cukup hanya diungkapkan melalui
perkataan. Seorang muslim harus membuktikannya dengan mengikuti ajaran dan
keteladanan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara lahir
maupun batin.
Pesan
tersebut disampaikan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. dalam kajian rutin Kitab Riyadhus
Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Sabtu (11/07/2026).
Dalam
kajiannya, Ustadz Ahmad Rifki menjelaskan tentang tanda-tanda kecintaan Allah
kepada seorang hamba. Menurutnya, salah satu jalan utama untuk mendapatkan
cinta dan rida Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam secara sungguh-sungguh.
“Mengikuti
Nabi itu secara lahir dan batin. Dalam akidah kita mengikuti Nabi, dalam
syariat mengikuti Nabi, dan dalam tasawuf juga mengikuti Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” jelasnya.
Ia
mengutip nasihat Imam Junaid Al-Baghdadi yang menegaskan bahwa jalan menuju
Allah harus berlandaskan pada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Karena itu, seorang muslim tidak seharusnya membuat ukuran sendiri dalam
menilai kedekatannya kepada Allah.
Menurut
Ustadz Ahmad Rifki, memperbanyak membaca shalawat menjadi salah satu ikhtiar
agar hati senantiasa mengingat Rasulullah. Ketika seseorang sering mengingat
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, akan tumbuh dorongan dalam dirinya
untuk mempelajari dan mengikuti kehidupan beliau.
Mulai
dari tata cara shalat, rukuk, sujud hingga akhlak dan keadaan batin Rasulullah
harus menjadi teladan bagi umat Islam.
“Di
samping mengaji, perbanyak membaca shalawat. Ketika seseorang ingat kepada
Kanjeng Nabi, hal itu akan mendorong dirinya untuk mengikuti Kanjeng Nabi,”
tuturnya.
Jangan Merasa Berhak atas Surga karena Amal
Dalam
kajian tersebut, jamaah juga diingatkan agar tidak merasa bahwa amal ibadah
yang dilakukan menjadikan seseorang otomatis berhak mendapatkan surga.
Ustadz
Ahmad Rifki menjelaskan bahwa surga dan ampunan Allah pada hakikatnya merupakan
anugerah serta karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, seorang muslim
harus berhati-hati agar tidak merasa telah “membeli” balasan Allah melalui amal
ibadahnya.
Menurutnya,
jika manusia merasa berhak menuntut balasan karena amal, maka manusia harus
terlebih dahulu melihat kesempurnaan ibadah yang telah dilakukan.
Apakah
shalat telah dilakukan dengan sempurna, penuh keikhlasan dan kekhusyukan?
Apakah hati benar-benar memahami dan menghayati setiap ibadah yang dijalankan?
“Kalau
kita meminta surga karena merasa sudah beramal, lalu bagaimana kalau amal kita
dituntut harus benar-benar sempurna? Apakah ikhlas kita sudah sempurna? Khusyuk
kita sudah sempurna?” ungkapnya.
Karena
itu, umat Islam harus selalu mengharapkan fadhlullah atau karunia Allah.
Amal tetap harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, namun seorang hamba tidak
boleh menyombongkan amalnya di hadapan Allah.
Wali Allah Bukan Diukur dari Perkara Aneh
Lebih
lanjut, Ustadz Ahmad Rifki membahas hadis tentang wali-wali Allah. Dalam hadis
qudsi disebutkan bahwa Allah menyatakan perang terhadap orang yang memusuhi
wali-Nya.
“Barang
siapa memusuhi kekasih-Ku, maka Aku umumkan perang terhadap dirinya,” jelasnya
mengutip kandungan hadis.
Namun,
ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh mudah menilai seseorang sebagai
wali hanya karena mampu melakukan sesuatu yang dianggap aneh atau luar biasa.
Menurutnya,
ukuran utama seorang wali adalah istiqamah menjalankan perintah Allah dan
menjauhi larangan-Nya secara lahir dan batin.
“Wali
itu orang yang lahir dan batinnya istiqamah menjalankan perintah dan menjauhi
larangan Allah,” tegasnya.
Ia
mencontohkan bahwa kemampuan melakukan perkara luar biasa bukan satu-satunya
ukuran kewalian. Sebab, dalam kisah-kisah keagamaan, jin pun dapat melakukan
pekerjaan yang berada di luar kemampuan manusia biasa.
Oleh
sebab itu, ketika melihat seseorang memiliki kemampuan atau peristiwa luar
biasa, umat Islam tetap harus melihat kesesuaiannya dengan syariat.
“Lihat
perbuatannya. Apakah dia menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan
secara istiqamah,” pesannya.
Para
sahabat Rasulullah seperti Sayyidina Utsman bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi
Thalib merupakan contoh kekasih-kekasih Allah yang kehidupan mereka dipenuhi
dengan ketaatan, perjuangan dan istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.
Dahulukan Ibadah Wajib Sebelum Mengejar Amalan Sunah
Pada
bagian akhir kajian, Ustadz Ahmad Rifki menekankan pentingnya memahami skala
prioritas dalam beribadah. Ia mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai
Allah adalah amalan yang diwajibkan kepada seorang hamba.
Karena
itu, umat Islam jangan sampai sibuk mengejar berbagai ibadah sunah tetapi
justru melalaikan kewajiban.
“Shalat
sunah dilakukan, tetapi shalat wajib ditinggalkan. Puasa sunah dikerjakan,
tetapi puasa Ramadan yang ditinggalkan belum diqadha. Jangan sampai seperti
itu,” tegasnya.
Menurutnya,
seorang hamba yang ingin mendekatkan diri kepada Allah harus terlebih dahulu
menjaga seluruh kewajibannya. Setelah ibadah wajib dilaksanakan dengan baik,
kedekatan kepada Allah terus ditingkatkan melalui berbagai amalan sunah.
Hal
tersebut sebagaimana kandungan hadis qudsi yang menjelaskan bahwa tidak ada
amalan yang lebih dicintai Allah sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya
melebihi perkara yang telah Allah wajibkan.
Seorang
wali Allah, lanjutnya, bukan hanya rajin menjalankan ibadah sunah. Ia terlebih
dahulu menjaga perkara wajib, kemudian secara istiqamah menyempurnakan
kedekatannya kepada Allah dengan amalan-amalan sunah.
Melalui
kajian Kitab Riyadhus Sholihin tersebut, Ustadz Ahmad Rifki mengajak
jamaah untuk kembali menata kehidupan beragama dengan mengikuti Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak membanggakan amal, menjaga istiqamah serta
mendahulukan kewajiban sebelum memperbanyak ibadah sunah.
Sebab, jalan untuk meraih cinta Allah bukan diukur dari pengakuan maupun perkara-perkara luar biasa, melainkan dari ketaatan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya secara istiqamah.
