Detail Berita

Amalan 20 Ayat untuk Perlindungan Diri dan Ketenteraman Hidup

Bojonegoro, — Suasana Masjid Darussalam Bojonegoro selepas salat Subuh tampak lebih lama dari biasanya. Jama’ah tetap duduk bersila mengikuti kuliah Shubuh yang membahas amalan bacaan Al-Qur’an sebagai ikhtiar perlindungan diri dari berbagai gangguan, baik spiritual maupun sosial, Selasa (6/1/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, — Suasana Masjid Darussalam Bojonegoro selepas salat Subuh tampak lebih lama dari biasanya. Jama’ah tetap duduk bersila mengikuti kuliah Shubuh yang membahas amalan bacaan Al-Qur’an sebagai ikhtiar perlindungan diri dari berbagai gangguan, baik spiritual maupun sosial, Selasa (6/1/2026).

Ustadz Miftahur Rohman menyampaikan riwayat yang dinisbatkan kepada Hasan bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, tentang keutamaan membaca 20 ayat Al-Qur’an secara rutin. Menurut penjelasan tersebut, siapa pun yang istiqamah membacanya diyakini akan mendapat penjagaan dari Allah SWT, mulai dari gangguan setan, kezaliman pemimpin, hingga bahaya pencurian dan ancaman hewan buas.

“Amalan ini bukan sekadar bacaan, tetapi bentuk tawakal dan ikhtiar spiritual agar hidup lebih tenang,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia merinci susunan ayat yang dimaksud, yakni Ayat Kursi, tiga ayat dari Surah Al-A’raf, sepuluh ayat awal Surah As-Saffat, tiga ayat dari Surah Ar-Rahman, serta tiga ayat terakhir Surah Al-Hasyr. Keseluruhannya berjumlah 20 ayat.

Menurutnya, Ayat Kursi menjadi inti perlindungan karena menegaskan keagungan dan kekuasaan Allah. Sementara rangkaian ayat lainnya melengkapi doa keselamatan dari berbagai keburukan.

“Kalau dibaca rutin setiap hari, insya Allah hati menjadi tenteram. Kita merasa dijaga, bukan hanya secara lahir, tapi juga batin,” tuturnya.

Selain membahas amalan bacaan, Ustadz Miftah juga menekankan pentingnya keseimbangan hidup. Ibadah, katanya, tidak boleh mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga dan diri sendiri. Ia mengingatkan agar umat tidak berlebihan dalam beribadah hingga melupakan kebutuhan istirahat, bekerja, dan menafkahi keluarga.

“Ibadah itu wajar dan proporsional. Tubuh punya hak untuk istirahat, keluarga punya hak untuk diperhatikan,” katanya, seraya mencontohkan teladan Rasulullah yang mengajarkan moderasi dalam beragama.

Akhirnya, kuliah Shubuh ditutup dengan pesan tentang syukur dan dzikir. Jamaah diajak membiasakan hati yang mudah bersyukur serta segera mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik lapang maupun sempit.

Bagi pengurus masjid, kuliah Shubuh ini menjadi bagian dari upaya memakmurkan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan spiritual masyarakat.