Bahaya Mengandalkan Amal Ibadah Tanpa Rahmat Allah
Kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali dipenuhi jamaah pada Jumat pagi. Dalam kajian yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, jamaah diajak memahami pentingnya rendah hati dalam beribadah dan tidak menggantungkan diri sepenuhnya pada amal pribadi, Jum’at (22/05/2026).
Kajian
rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro kembali dipenuhi jamaah pada Jumat pagi. Dalam
kajian yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki
Azmi, jamaah diajak memahami pentingnya rendah hati dalam beribadah dan
tidak menggantungkan diri sepenuhnya pada amal pribadi, Jum’at (22/05/2026).
Dalam penjelasannya, Ustadz Ahmad
Rifki Azmi mengupas isi Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari
tentang perjalanan spiritual seorang hamba menuju Allah SWT. Ia menegaskan
bahwa manusia tidak akan mampu mencapai kedekatan dengan Allah hanya dengan
mengandalkan amal ibadah semata, karena setiap amal masih memiliki banyak
kekurangan dan cacat.
Ustadz Rifki menjelaskan bahwa
sering kali manusia merasa ibadahnya sudah baik, mulai dari shalat, puasa,
hingga ibadah lainnya. Namun, tanpa disadari, rasa bangga terhadap amal dapat
menjadi pintu kesombongan. Amal yang tampak baik di mata manusia belum tentu
benar-benar bersih di hadapan Allah karena bisa saja dihiasi oleh hawa nafsu
dan tipu daya setan.
“Yang membuat seorang hamba bisa
dekat kepada Allah bukan semata-mata amalnya, tetapi karena rahmat, kasih
sayang, dan pertolongan Allah,” terang beliau di hadapan jamaah.
Dalam kajian tersebut juga
disampaikan bahwa Allah melihat ketulusan hati seorang hamba. Meski manusia
penuh kekurangan, Allah dapat menutupi kelemahannya apabila ia sungguh-sungguh
ingin mendekat kepada-Nya. Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengibaratkan seorang
karyawan yang tetap dipertahankan oleh atasannya bukan karena sempurna, tetapi
karena dinilai tulus dan memiliki niat baik.
Ustadz Rifki mengingatkan jamaah
agar tetap bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah dan mujahadah, tetapi
tidak menjadikan amal sebagai sesuatu yang dibanggakan. Seorang hamba harus
tetap bergantung pada fadhal dan rahmat Allah SWT.
Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini rutin digelar dan menjadi salah satu majelis ilmu yang banyak diikuti masyarakat Bojonegoro untuk memperdalam ilmu agama, khususnya dalam bidang akhlak dan tasawuf.
