Detail Berita

Bahaya Pujian dan Pentingnya Muhasabah Diri

Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali diselenggarakan dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. sebagai pemateri. Dalam kajian kitab Al-Hikam karya Imam Ahmad bin Abdullah As-Sakandari, beliau mengingatkan jamaah agar berhati-hati terhadap pujian manusia. Menurutnya, pujian dapat menjadi ujian yang membahayakan hati apabila tidak disikapi dengan muhasabah dan kerendahan hati, Jum’at (24/7/2026)

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali diselenggarakan dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. sebagai pemateri. Dalam kajian kitab Al-Hikam karya Imam Ahmad bin Abdullah As-Sakandari, beliau mengingatkan jamaah agar berhati-hati terhadap pujian manusia. Menurutnya, pujian dapat menjadi ujian yang membahayakan hati apabila tidak disikapi dengan muhasabah dan kerendahan hati, Jum’at (24/7/2026)

Mengawali kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman dan Islam yang diberikan Allah SWT sehingga masih dapat menunaikan Salat Subuh berjamaah serta mengikuti majelis ilmu. Beliau berharap seluruh amal ibadah yang dilakukan memperoleh rida Allah SWT.

Dalam pembahasannya, beliau menjelaskan bahwa secara naluriah manusia merasa senang ketika dipuji. Namun, rasa senang tersebut perlu diwaspadai karena pujian sering kali menjadi jalan masuk munculnya penyakit hati, seperti ujub, sombong, dan merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Beliau menerangkan bahwa seseorang yang memuji biasanya telah menaruh kekaguman dan simpati kepada orang yang dipuji. Bahkan, pujian dapat membuat orang lain mudah percaya, tunduk, hingga bersedia memenuhi keinginan orang yang dipuji. Oleh karena itu, pujian bukan sekadar ucapan, melainkan memiliki pengaruh besar terhadap hati manusia.

Mengutip nasihat Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menjelaskan bahwa ketika seseorang dipuji karena anggapan orang lain terhadap kebaikan dirinya, maka ia justru harus lebih mengenali kekurangan dan kelemahan dirinya sendiri. Seorang mukmin tidak boleh terlena oleh penilaian manusia, tetapi harus terus bercermin kepada Al-Qur'an dan hadis sebagai ukuran kualitas iman dan amalnya.

Beliau mengibaratkan penyakit hati seperti penyakit fisik. Orang yang tidak menyadari dirinya sakit tidak akan berusaha mencari pengobatan. Demikian pula penyakit hati, apabila seseorang tidak menyadari adanya kesombongan, riya, atau ujub dalam dirinya, maka penyakit tersebut akan terus berkembang hingga membahayakan keselamatan iman.

Menurut beliau, Rasulullah SAW telah mengingatkan agar umat Islam berhati-hati terhadap pujian yang berlebihan. Pujian yang diterima tanpa kewaspadaan dapat mematikan hati karena membuat seseorang terlena, meninggalkan muhasabah, dan merasa dirinya telah sempurna.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu merendahkan hati, menyadari kekurangan dirinya, serta terus memperbaiki amal ibadah. Sikap inilah yang akan menjaga seseorang dari kesombongan dan membantunya tetap istiqamah di jalan Allah SWT.

Ustadz Ahmad Rifki Azmi juga mengutip doa yang diajarkan para salaf ketika menerima pujian, di antaranya doa yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali r.a.:

"Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka sangka, ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka ucapkan."

Doa tersebut mengajarkan bahwa setiap pujian hendaknya dikembalikan kepada Allah SWT disertai permohonan ampun atas berbagai kekurangan yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah SWT.

Menutup kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengingatkan bahwa kegembiraan berlebihan terhadap pujian dapat menjadi pintu masuk godaan setan yang merusak keikhlasan. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memperbanyak muhasabah, menjaga keikhlasan, serta tidak menjadikan pujian manusia sebagai ukuran kemuliaan dirinya. Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama agar Allah SWT senantiasa menjaga hati kaum muslimin dari penyakit riya, ujub, dan kesombongan, serta menjadikan mereka hamba-hamba yang ikhlas dalam beribadah.