Detail Berita

Bahaya Syirik dan Perbuatan Maksiat

Kajian setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Jumat pagi disampaikan oleh KH. Shofiyulloh Masnyur. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk menjauhi perbuatan syirik dan berbagai bentuk maksiat yang dinilai dapat mengotori hati serta merusak kehidupan manusia, Jum’at (5/6/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Jumat pagi disampaikan oleh KH. Shofiyulloh Masnyur. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk menjauhi perbuatan syirik dan berbagai bentuk maksiat yang dinilai dapat mengotori hati serta merusak kehidupan manusia, Jum’at (5/6/2026).

Di hadapan jamaah, KH. Shofiyulloh menegaskan bahwa dosa syirik merupakan dosa paling besar dalam Islam. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa orang-orang musyrik adalah najis, sehingga syirik menjadi perbuatan yang sangat berbahaya bagi keimanan seseorang. Menurutnya, syirik bukan sekadar dosa biasa, melainkan bentuk pengingkaran terhadap kekuasaan Allah SWT.

Beliau menjelaskan, syirik dapat muncul ketika manusia lebih takut kepada selain Allah atau menganggap ada kekuatan lain yang melebihi kehendak-Nya. Syirik juga dapat hadir dalam bentuk halus, seperti riya’ atau pamer amal ibadah demi mendapatkan pujian manusia.

Dalam tausiyahnya, KH. Shofiyulloh juga mengingatkan bahwa lemahnya iman dan kurangnya pemahaman agama menjadi salah satu penyebab seseorang mudah terjerumus dalam syirik. Padahal, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berada dalam kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Ia mengibaratkan manusia seperti benda yang digerakkan oleh “remote” kehendak Allah, sehingga manusia seharusnya tunduk dan berserah diri kepada-Nya.

Selain membahas syirik, beliau turut menyoroti maraknya perilaku maksiat di tengah masyarakat, khususnya zina dan perilaku LGBT yang menurutnya semakin meluas. Ia menyebut perbuatan tersebut sebagai penyakit moral yang dapat membawa dampak buruk, baik secara spiritual maupun sosial.

KH. Shofiyulloh juga menjelaskan bahwa dosa dan maksiat tidak hanya mengotori hati manusia, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku lahiriah seseorang. Sebaliknya, orang yang menjaga diri dari dosa akan memancarkan kebaikan dan ketenangan dalam kehidupannya.

Menutup kajiannya, KH. Shofiyulloh Masnyur mengajak seluruh jamaah untuk terus membersihkan diri dari penyakit hati, terutama syirik dan maksiat, agar kehidupan menjadi lebih baik dan mendapat keberkahan dari Allah SWT.