Belajar Husnudhon dalam Menghadapi Ujian Kehidupan
Jamaah Kajian Rutin Setelah Shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. yang mengulas pentingnya membangun hati yang tenang melalui sikap husnuzan kepada Allah SWT, memperbanyak rasa syukur, mengutamakan kehidupan akhirat, serta membiasakan diri berdzikir dalam setiap aktivitas. Materi kajian disampaikan dengan merujuk pada kitab Nash?ihul ‘Ib?d, Selasa (28/07/2026).
Jamaah
Kajian Rutin Setelah Shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali
mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz
Khafif Ahmaruddin, M.Pd. yang mengulas pentingnya membangun hati yang tenang
melalui sikap husnuzan kepada Allah SWT, memperbanyak rasa syukur, mengutamakan
kehidupan akhirat, serta membiasakan diri berdzikir dalam setiap aktivitas.
Materi kajian disampaikan dengan merujuk pada kitab Nash?ihul ‘Ib?d,
Selasa (28/07/2026).
Dalam
tausiyahnya, Ustadz Khafif menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang mukmin tidak
ditentukan oleh banyaknya harta maupun terbebasnya dari persoalan dunia.
Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang dipenuhi rasa ridha dan syukur atas
setiap ketetapan Allah SWT. Menurut beliau, seseorang yang selalu bersyukur
akan lebih mudah merasakan ketenangan, sedangkan hati yang dipenuhi keluhan
justru mudah terserang kegelisahan dan penyakit batin.
Beliau
juga menyinggung pentingnya menjaga kesehatan lahir dan batin. Menurutnya, kondisi
mental yang dipenuhi rasa takut, cemas, dan putus asa dapat melemahkan daya
tahan tubuh. Sebaliknya, hati yang tenang, penuh syukur, dan tawakal akan
membantu seseorang menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan lebih kuat.
Sebagai contoh, beliau mengulas pengalaman masyarakat saat pandemi COVID-19, di
mana banyak orang mengalami tekanan psikologis yang turut memengaruhi kondisi
kesehatannya.
Lebih
lanjut, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk selalu berprasangka baik (husnuzan)
kepada Allah SWT. Menurut beliau, seluruh ketentuan Allah mengandung kasih
sayang dan hikmah, meskipun terkadang tidak langsung dipahami oleh manusia.
Beliau mengibaratkan seorang anak yang dilarang mengonsumsi makanan tertentu
oleh orang tuanya. Larangan tersebut bukan karena kebencian, melainkan bentuk
kasih sayang agar sang anak terhindar dari bahaya. Demikian pula ujian,
musibah, maupun penyakit yang diberikan Allah, semuanya merupakan bentuk
pendidikan dan kasih sayang agar hamba-Nya kembali mendekat kepada-Nya.
Mengutip
firman Allah SWT tentang adanya kemudahan bersama kesulitan, beliau
mengingatkan bahwa rahmat Allah jauh lebih besar daripada setiap persoalan
dunia. Menurutnya, yang sering kali menjadi masalah bukanlah beratnya ujian,
melainkan sempitnya hati dalam menyikapi ujian tersebut. Oleh karena itu, umat
Islam diajak memperluas hati dengan memperbanyak syukur dan memperkuat
keyakinan kepada Allah SWT.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Khafif juga membagikan kisah nyata mengenai seseorang
yang mengalami kesulitan ekonomi akibat mengambil keputusan yang tidak sesuai
dengan jalan rezekinya. Dari kisah tersebut beliau menegaskan bahwa Allah SWT
telah membagi rezeki setiap hamba sesuai ketetapan-Nya. Tugas manusia adalah
berusaha dengan sungguh-sungguh, tetap bersyukur, dan menerima setiap hasil
dengan penuh keridhaan tanpa kehilangan semangat untuk terus berikhtiar.
Beliau
kemudian mengingatkan pentingnya mengutamakan kehidupan akhirat. Orang yang
menjadikan akhirat sebagai tujuan utama akan memperoleh ketenangan hati,
sedangkan urusan dunianya akan dimudahkan oleh Allah SWT. Kesadaran akan
kehidupan akhirat juga menjadi penghibur ketika menyaksikan berbagai
ketidakadilan di dunia, karena seluruh amal manusia kelak akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Pada
bagian akhir tausiyah, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk memperbanyak zikir
sebagai obat hati. Mengutip firman Allah SWT, "Ala bi dzikrillahi
tathma'innul qulub" (ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenteram), beliau mengajak umat Islam agar membiasakan zikir kapan pun
dan di mana pun, baik saat bekerja, berkendara, beristirahat, maupun menunggu
aktivitas lainnya. Menurut beliau, orang yang senantiasa berdzikir akan lebih
mudah memperoleh ketenangan, dipertemukan dengan lingkungan yang baik, serta dikuatkan
dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Menutup kajiannya, Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. mengajak seluruh jamaah agar senantiasa menjaga hati yang kaya dengan rasa syukur, tetap bahagia dalam setiap keadaan, serta tidak mudah mengeluh terhadap persoalan dunia. Dengan memperkuat husnuzan kepada Allah SWT, mengutamakan akhirat, dan memperbanyak zikir, beliau berharap kaum muslimin senantiasa memperoleh ketenangan hati, keberkahan hidup, serta pertolongan Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan. Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama.
