Belajar Khauf dari Sayyidah Maryam
Kajian rutin setelah Shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam kembali dipenuhi jamaah pada Sabtu pagi. Dalam kesempatan tersebut, kajian disampaikan oleh KH. Ahmad Maimun Syafi’i dengan membahas tafsir Surat Maryam, khususnya kisah keteguhan iman Sayyidah Maryam saat menghadapi ujian berat dari Allah SWT, Sabtu (16/5/2026)
Kajian
rutin setelah Shalat Shubuh di Masjid Agung
Darussalam kembali dipenuhi jamaah pada Sabtu pagi. Dalam kesempatan
tersebut, kajian disampaikan oleh KH. Ahmad Maimun Syafi’i dengan membahas
tafsir Surat Maryam, khususnya kisah keteguhan iman Sayyidah Maryam saat menghadapi
ujian berat dari Allah SWT, Sabtu (16/5/2026)
Dalam penjelasannya, KH. Ahmad
Maimun Syafi’i menguraikan bagaimana Sayyidah Maryam merasa takut dan cemas
ketika harus menghadapi tuduhan manusia atas kehamilannya yang terjadi tanpa
melalui pernikahan. Perasaan itu tergambar dalam doa dan ungkapan Sayyidah
Maryam yang berharap seolah dirinya tidak dikenal dan tidak diperhitungkan oleh
manusia. Namun di balik ujian tersebut, Allah SWT tetap memberikan pertolongan
dan kemuliaan kepada hamba-Nya yang sabar dan taat.
KH. Ahmad Maimun Syafi’i juga
menjelaskan bahwa rasa takut kepada Allah atau khauf merupakan sifat yang
dimiliki para nabi, sahabat, dan orang-orang saleh. Beliau mencontohkan kisah
para sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, hingga
Bilal bin Rabah yang memiliki rasa takut sangat besar terhadap hisab dan
pertanggungjawaban di hari kiamat. Bahkan sebagian dari mereka merasa khawatir
amalnya tidak diterima dan berharap menjadi sesuatu yang tidak diperhitungkan
agar terhindar dari beratnya hisab.
Menurut beliau, rasa takut kepada
Allah harus berjalan seimbang dengan harapan akan rahmat dan ampunan-Nya.
Seorang muslim tidak boleh hanya dipenuhi rasa takut, tetapi juga harus
memiliki harapan besar terhadap kasih sayang Allah SWT, terutama melalui taubat
dan memperbanyak ibadah.
Kajian ditutup dengan ajakan kepada jamaah untuk terus meningkatkan kesadaran akan pengawasan Allah SWT, memperbaiki amal, serta menjaga keseimbangan antara rasa takut dan harapan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
