Jangan Berlebihan Mencintai Dunia
Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh KH. Azizi Falaqi. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk memahami hakikat kehidupan dunia serta menjaga keseimbangan antara mencari kebahagiaan dunia dan mempersiapkan kehidupan akhirat, Ahad, (27/9/2026).
Kajian
rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh KH.
Azizi Falaqi. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk memahami hakikat
kehidupan dunia serta menjaga keseimbangan antara mencari kebahagiaan dunia dan
mempersiapkan kehidupan akhirat, Ahad, (27/9/2026).
Mengawali
kajian, KH. Azizi Falaqi mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada
Allah SWT atas limpahan rahmat, nikmat, dan hidayah-Nya sehingga dapat
berkumpul dan mengikuti kajian Subuh. Ia juga mengingatkan pentingnya
memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW serta menjadikan beliau sebagai
teladan dalam kehidupan.
Dalam
kajian tersebut, KH. Azizi Falaqi mengangkat kisah Abdullah bin Umar
radhiyallahu 'anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan
bagaimana Abdullah bin Umar memiliki sikap hati-hati terhadap kenikmatan dunia.
Menurutnya,
dunia tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Harta yang
banyak tidak menjadi persoalan selama digunakan sebagai sarana untuk berjuang
di jalan Allah dan menjadi bekal untuk kehidupan akhirat. Sebaliknya,
kenikmatan dunia dapat menjadi persoalan ketika kecintaan terhadapnya membuat
seseorang lalai dan menggeser kecintaan kepada Allah SWT.
“Ketika
kecintaan terhadap dunia semakin kuat sehingga menggeser semangat dalam taat
kepada Allah Ta'ala, hal itu dapat mengurangi derajat kemuliaan seseorang di
sisi Allah,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
KH.
Azizi kemudian menggambarkan hubungan antara kenikmatan dunia dan kebahagiaan
akhirat. Ia mengibaratkan keduanya seperti arah timur dan barat. Ketika
seseorang semakin mengejar kenikmatan dunia secara berlebihan, maka perhatian
terhadap akhirat dapat semakin berkurang.
Ia
juga mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan
utama kehidupan. Sebab, menurut materi kajian tersebut, kemuliaan seseorang di
hadapan Allah tidak ditentukan oleh jabatan, kepandaian, ataupun banyaknya
harta, tetapi juga oleh kondisi hati dan kecintaannya kepada Allah SWT.
Salah
satu bagian yang menarik dalam kajian tersebut adalah kisah Abdullah bin Umar
ketika meminum air yang telah didinginkan. Alih-alih menikmati kesegarannya,
Abdullah bin Umar justru menangis.
KH.
Azizi menjelaskan bahwa tangisan tersebut berkaitan dengan sikap kehati-hatian
Abdullah bin Umar terhadap kenikmatan dunia. Ia khawatir kenikmatan yang
berlebihan akan mengurangi bagian kenikmatan yang akan diperoleh di akhirat.
Sikap
tersebut menjadi gambaran bagaimana para salafus shalih sangat berhati-hati
dalam menikmati kehidupan dunia. Mereka bukan berarti menolak kenikmatan,
tetapi berusaha agar kenikmatan tersebut tidak membuat hati semakin terikat
kepada dunia.
KH.
Azizi juga menyinggung keteladanan para ulama yang hidup sederhana. Menurutnya,
para ulama terdahulu memahami bahwa menikmati kenikmatan dunia secara
berlebihan dapat membuat seseorang semakin jauh dari orientasi akhirat.
Dalam
kajian itu, KH. Azizi Falaqi kemudian mengajak jamaah meneladani kehidupan
Rasulullah SAW. Ia menyampaikan gambaran tentang kezuhudan Nabi Muhammad SAW
yang tetap sederhana meskipun memiliki kesempatan untuk memperoleh kemewahan
dunia.
Ia
menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah berada dalam kondisi tidak tersedia
makanan, bahkan kemudian berpuasa. Dalam keadaan demikian, Rasulullah SAW tetap
menunjukkan sikap tidak terpikat oleh kemewahan dunia.
Menurut
KH. Azizi, sikap zuhud bukan berarti seseorang harus meninggalkan pekerjaan,
harta, atau kehidupan dunia. Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja dan
berjuang demi memenuhi kebutuhan kehidupan.
“Islam
itu mendukung umatnya supaya semangat kerja, semangat berjuang untuk
kebahagiaan dunia dan akhirat,” jelasnya dalam kajian tersebut.
Karena
itu, ia mengajak jamaah untuk tetap bekerja keras mencari rezeki dan memenuhi
kebutuhan keluarga, tetapi tidak sampai menjadikan harta sebagai pusat
kebahagiaan.
Di
bagian akhir kajian, KH. Azizi Falaqi menekankan pentingnya keseimbangan.
Jamaah tidak dianjurkan untuk bermalas-malasan atau meninggalkan ikhtiar
duniawi. Sebaliknya, umat Islam perlu bekerja, berusaha, dan memperjuangkan
kesejahteraan keluarga.
Namun,
semua ikhtiar tersebut hendaknya tetap berada dalam koridor ketaatan kepada
Allah SWT.
Ia
mengajak jamaah untuk menjadikan dunia sebagai jembatan menuju kebahagiaan akhirat,
bukan sebagai tujuan akhir kehidupan. Harta, pekerjaan, jabatan, dan berbagai
kenikmatan dunia hendaknya digunakan sebagai sarana untuk semakin dekat kepada
Allah SWT.
“Semangat
memperjuangkan kebahagiaan dunia sebagai jembatan menuju akhirat,” menjadi
salah satu pesan utama yang ditekankan dalam kajian tersebut.
Kajian Subuh kemudian ditutup dengan doa dan pembacaan Al-Fatihah. KH. Azizi Falaqi berharap jamaah senantiasa diberikan pertolongan Allah SWT untuk menjaga keseimbangan antara ikhtiar mencari kebahagiaan dunia dan menjalankan perintah-Nya demi meraih kebahagiaan akhirat.
