Detail Berita

Salat Adalah Cahaya bagi Orang Mukmin

Kajian rutin Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh KH. Abdul Aziz Ahmad. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk memahami pentingnya salat, wudu, dan zikir sebagai bagian dari ibadah yang dapat menerangi hati serta menjadi bekal keselamatan di akhirat, Senin, (28/9/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh KH. Abdul Aziz Ahmad. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk memahami pentingnya salat, wudu, dan zikir sebagai bagian dari ibadah yang dapat menerangi hati serta menjadi bekal keselamatan di akhirat, Senin, (28/9/2026).

Mengawali kajian, KH. Abdul Aziz Ahmad mengajak jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT, terutama nikmat kesehatan, iman, dan Islam. Ia berharap keimanan tersebut senantiasa terjaga hingga akhir hayat sehingga umat Islam dapat meninggal dalam keadaan mengucapkan kalimat la ilaha illallah dan memperoleh rahmat Allah SWT.

Salah satu pesan utama dalam kajian tersebut adalah tentang kedudukan salat sebagai cahaya bagi orang mukmin. KH. Abdul Aziz Ahmad menyampaikan bahwa salat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Ia mengutip makna hadis bahwa salat merupakan cahaya. Cahaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehidupan akhirat, tetapi juga memberikan ketenangan dan kelapangan hati bagi orang yang menjalankannya.

“Salat itu cahaya bagi orang mukmin,” menjadi salah satu pokok pesan yang disampaikan kepada jamaah.

Menurutnya, ketika seseorang menghadapi persoalan dan kesulitan yang membuat hati gelisah, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah mendirikan salat. Ia mencontohkan Rasulullah SAW yang ketika menghadapi persoalan yang berat segera melaksanakan salat.

Salat, lanjutnya, dapat menjadi sarana untuk menenangkan hati yang gundah dan menghadirkan ketenteraman karena seorang hamba kembali menghadap Allah SWT.

Selain membahas salat, KH. Abdul Aziz Ahmad juga mengingatkan jamaah agar tidak menganggap wudu sebagai sesuatu yang sepele.

Ia menjelaskan bahwa wudu merupakan bagian dari ibadah. Wudu bukan hanya berkedudukan sebagai syarat sah salat, tetapi juga menjadi bentuk penyucian diri secara lahiriah.

Dalam pelaksanaannya, wudu melibatkan anggota tubuh seperti wajah, tangan, kepala, telinga, dan kaki. Namun, menurutnya, bersuci juga perlu dipahami secara batiniah dengan membersihkan hati dari berbagai penyakit seperti iri, dengki, prasangka buruk, dan kemarahan.

KH. Abdul Aziz Ahmad mengingatkan bahwa kebersihan lahir dan batin perlu berjalan bersama. Karena itu, wudu hendaknya dilakukan dengan niat dan kesadaran bahwa seorang Muslim sedang mempersiapkan diri untuk menghadap Allah SWT dalam salat.

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak untuk tidak meremehkan zikir meskipun bacaan yang diucapkan tampak sederhana.

KH. Abdul Aziz Ahmad mencontohkan bacaan Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar yang masing-masing dibaca sebanyak 33 kali. Menurutnya, amalan tersebut jangan dianggap kecil karena nilai pahala di sisi Allah SWT sangat besar.

Ia juga menjelaskan pentingnya zikir bersama setelah salat. Selain membantu jamaah agar tidak malas berzikir, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk memperbaiki bacaan dan membangun kebersamaan di antara sesama jamaah.

Zikir bersama, menurutnya, juga dapat mempererat hati dan membangun kesinambungan di antara jamaah.

KH. Abdul Aziz Ahmad kemudian menggambarkan kondisi hati manusia seperti ruangan yang membutuhkan cahaya. Ketika tidak ada cahaya, seseorang akan kesulitan melihat dan menentukan arah.

Demikian pula hati manusia. Menurutnya, hati membutuhkan cahaya, dan di antara sumber cahaya tersebut adalah zikir kepada Allah dan membaca Al-Qur'an.

Ia mengingatkan jamaah agar menjadikan zikir dan Al-Qur'an sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan hati yang senantiasa mengingat Allah, seseorang diharapkan memiliki ketenangan dan penerang dalam menjalani kehidupan.

Lebih jauh, KH. Abdul Aziz Ahmad menjelaskan bahwa cahaya salat akan menjadi bekal bagi seorang mukmin di akhirat. Ia menyampaikan bahwa orang-orang yang menjaga salatnya akan mendapatkan nur, burhan, dan keselamatan pada hari kiamat.

Ia mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban mengenai orang yang menjaga salat dengan baik akan memperoleh cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat.

Dalam kajiannya, ia juga menggambarkan keadaan manusia pada hari kiamat ketika diperintahkan untuk bersujud. Orang-orang yang terbiasa melaksanakan salat dan sujud selama hidup di dunia akan lebih mudah menjalankan perintah tersebut. Sebaliknya, mereka yang tidak terbiasa bersujud akan menghadapi kesulitan.

Karena itu, KH. Abdul Aziz Ahmad mengajak jamaah untuk membiasakan diri menjaga salat dan memperbanyak sujud dengan ikhlas, bukan karena ingin mendapatkan pujian atau menunjukkan ibadah kepada orang lain.

Di akhir kajian, KH. Abdul Aziz Ahmad kembali menegaskan bahwa salat merupakan ibadah yang memiliki hubungan khusus antara seorang hamba dengan Allah SWT. Selain menjadi sumber pahala, salat juga menjadi tanda dan cahaya bagi seorang mukmin serta dapat menjadi jalan keselamatan pada hari kiamat.

Ia kemudian mengajak seluruh jamaah Masjid Agung Darussalam untuk menjadi orang-orang yang senantiasa menjaga salat sehingga kelak mendapatkan cahaya dan keselamatan dari Allah SWT.

“Mudah-mudahan kita semuanya termasuk orang-orang yang ahli salat dan besok mendapat cahaya, diselamatkan oleh Allah SWT,” harap KH. Abdul Aziz Ahmad di penghujung kajiannya.