Menjadi Pribadi Dermawan
Kajian rutin Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk menumbuhkan sifat dermawan, gemar bersedekah, dan membantu sesama sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, Selasa, (29/9/2026).
Kajian
rutin Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Khafif
Ahmaruddin, M.Pd. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk menumbuhkan sifat
dermawan, gemar bersedekah, dan membantu sesama sebagai bagian dari upaya
mendekatkan diri kepada Allah SWT, Selasa, (29/9/2026).
Mengawali
kajian, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari hadis Nabi
Muhammad SAW tentang pentingnya membantu memenuhi kebutuhan orang lain.
Menurutnya, salah satu ibrah penting dari hadis tersebut adalah anjuran untuk
memiliki kepedulian terhadap sesama, terutama ketika ada orang di sekitar yang
mengalami kesulitan.
Ustadz
Khafif menjelaskan bahwa sifat dermawan memiliki hubungan erat dengan
pertolongan Allah SWT. Orang yang ringan tangan dalam membantu sesama akan
lebih mudah mendapatkan pertolongan Allah dalam kehidupannya.
Ia
menyampaikan sebuah gambaran bahwa apabila seseorang yang telah meninggal
kemudian diberi kesempatan kembali ke dunia, salah satu hal yang ingin
dilakukannya adalah menjadi orang yang dermawan, bersedekah, dan membantu orang
lain.
Keinginan
tersebut menunjukkan bahwa kesempatan untuk berbuat baik melalui harta
merupakan sesuatu yang sangat berharga. Karena itu, selama masih hidup, umat
Islam hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersedekah dan membantu
sesama.
Dalam
kajiannya, Ustadz Khafif juga menyampaikan kisah tentang Nabi Yahya AS dan
godaan setan. Dalam kisah tersebut, orang yang bakhil disebut sebagai salah
satu tipe manusia yang lebih mudah terpengaruh oleh godaan setan. Sebaliknya,
orang yang dermawan lebih sulit digoda karena memiliki kecenderungan untuk
senang menolong orang lain.
Untuk
memberikan gambaran tentang bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta, Ustadz
Khafif mengisahkan Tsa'labah, seorang sahabat yang pada awalnya hidup dalam
keadaan miskin.
Dalam
kisah yang disampaikan, Tsa'labah pernah meminta kepada Rasulullah SAW agar
didoakan menjadi orang kaya. Setelah kehidupannya berubah dan hartanya semakin
bertambah, kesibukannya mengurus harta membuat keterlibatannya dalam ibadah dan
berjamaah semakin berkurang.
Ketika
kewajiban zakat kemudian diperintahkan kepadanya, Tsa'labah justru keberatan
mengeluarkan sebagian hartanya. Ia bahkan menganggap zakat sebagai sesuatu yang
memberatkan, padahal zakat merupakan kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT.
Ustadz
Khafif menjadikan kisah tersebut sebagai peringatan agar jamaah tidak terjebak
pada kecintaan berlebihan terhadap harta. Menurutnya, harta pada hakikatnya
merupakan titipan dan rezeki dari Allah SWT sehingga sebagian di antaranya
memiliki hak yang harus diberikan kepada orang lain.
Lebih
lanjut, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk menyadari besarnya peran Allah SWT
dalam setiap rezeki yang diterima manusia.
Ia
menggambarkan bahwa dalam memperoleh harta, manusia tidak dapat sepenuhnya
mengklaim hasil tersebut sebagai miliknya sendiri. Bahkan dalam usaha sederhana
sekalipun, terdapat banyak proses yang berada di luar kendali manusia dan
berlangsung atas kehendak Allah SWT.
Karena
itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak terlalu berat hati ketika harus
mengeluarkan sebagian hartanya untuk zakat, sedekah, maupun membantu orang
lain.
Menurutnya,
salah satu bentuk keimanan adalah menyadari bahwa harta yang dimiliki merupakan
titipan dari Allah SWT. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong seseorang untuk
lebih ringan bersedekah dan membantu orang yang membutuhkan.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Khafif juga membahas hubungan antara kecintaan terhadap
dunia dan semangat beribadah.
Ia
menjelaskan bahwa salah satu faktor yang dapat membuat seseorang menunda ibadah
dan taubat adalah panjangnya angan-angan terhadap kehidupan dunia. Seseorang
terlalu sibuk merencanakan berbagai keinginan duniawi sehingga amal saleh dan
taubat terus ditunda.
Karena
itu, jamaah diajak untuk tidak membiarkan kecintaan terhadap dunia menguasai
hati dan menghalangi seseorang untuk segera beramal saleh.
Ustadz
Khafif kemudian mengangkat kisah tentang seorang kaya di Rembang yang memiliki
perhatian besar terhadap pendidikan agama anaknya. Anaknya dititipkan untuk
belajar kepada para ulama selama bertahun-tahun.
Dalam
kisah tersebut, kedermawanan orang tua, kecintaan terhadap ilmu, serta doa
menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendapatkan keturunan yang saleh. Hasilnya,
anak tersebut kemudian berkembang menjadi seorang ulama.
Kisah
ini disampaikan sebagai gambaran bahwa kedermawanan, amal, dan doa dapat
menjadi bagian dari ikhtiar seorang Muslim dalam mengharapkan keberkahan bagi
keluarga dan keturunannya.
Selain
membahas kedermawanan, Ustadz Khafif juga mengajak jamaah untuk belajar
menghargai kelebihan orang lain.
Ia
mencontohkan kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Keduanya memiliki kelebihan
masing-masing. Nabi Harun AS dikenal memiliki kemampuan berbicara yang lebih
fasih, sementara Nabi Musa AS memiliki kelebihan lainnya.
Menurutnya,
setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu,
seseorang tidak seharusnya merasa paling unggul hanya karena memiliki satu
kelebihan. Sebaliknya, umat Islam perlu melakukan muhasabah dan menyadari bahwa
di balik kelebihan yang dimiliki, terdapat pula kekurangan yang perlu
diperbaiki.
Di
penghujung kajian, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk memohon perlindungan kepada
Allah SWT dari sifat bakhil, lemah, dan malas.
Ia
berharap jamaah senantiasa diberi kekuatan untuk meningkatkan amal,
memperbanyak sedekah, membantu sesama, serta menjauhi sifat terlalu mencintai
dunia.
Menurutnya,
kedermawanan perlu dibangun sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan menjadi pribadi yang ringan tangan membantu orang lain, seorang Muslim
diharapkan memperoleh keberkahan dan pertolongan Allah SWT.
Kajian Subuh tersebut ditutup dengan doa agar jamaah senantiasa diberikan kekuatan iman, dijauhkan dari sifat bakhil dan malas, serta dikaruniai hati yang dermawan dan gemar berbuat kebaikan.
