Detail Berita

Gambaran Manusia Kelak Saat Dibangkitakn Kembali

Bojonegoro — Pengajian rutin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan nuansa religius yang khidmat. Kegiatan yang dihadiri jamaah laki-laki dan perempuan ini diawali dengan pembacaan basmalah, selawat, serta doa pembuka yang dipanjatkan untuk memohon kemudahan dan keberkahan majelis ilmu, Sabtu (22/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Pengajian rutin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan nuansa religius yang khidmat. Kegiatan yang dihadiri jamaah laki-laki dan perempuan ini diawali dengan pembacaan basmalah, selawat, serta doa pembuka yang dipanjatkan untuk memohon kemudahan dan keberkahan majelis ilmu, Sabtu (22/11/2025).

Pada kesempatan tersebut, KH. A. Maimun Syafi’i mengajak jamaah untuk bersama-sama memperdalam pengawasan dan pemaknaan tafsir Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Kahfi ayat 99. Beliau berharap kegiatan ini membawa manfaat bagi jamaah, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Kajian dimulai dengan pembacaan ayat Al-Qur’an dilanjutkan penjelasan mengenai gambaran hari kebangkitan dan pengumpulan seluruh manusia oleh Allah SWT. Mbah Mun menegaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan manusia yang kelak dibangkitkan setelah kematian, dikumpulkan di satu tempat untuk dihisab dan menerima balasan atas amal perbuatannya.

Beliau mencontohkan makna ayat “siapa berbuat kebaikan seberat zarrah akan melihat balasannya, dan siapa yang berbuat keburukan seberat zarrah pun akan melihat balasannya.” Mbah Mun menjelaskan bahwa ukuran “zarrah” dapat digambarkan seperti semut kecil atau sesuatu yang nyaris tak terlihat. “Sekecil apa pun amal kita, tetap dihitung oleh Allah SWT,” ujarnya.

Dalam bagian berikutnya, Beliau mengulas peran Rasulullah SAW dalam membimbing umat, termasuk keutamaan orang-orang yang hatinya selalu terikat dengan masjid. Menurutnya, yang dimaksud bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi memiliki keterikatan hati untuk senantiasa beribadah dan memakmurkan masjid.

Mbah Mun kemudian menjelaskan gambaran mengenai neraka yang diungkapkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Ia menyampaikan bahwa Allah menampakkan neraka bagi orang-orang kafir sebagai bentuk peringatan dan balasan atas kekufuran mereka. Beliau juga menuturkan kisah-kisah ulama terdahulu yang pernah merasakan ketakutan mendalam ketika mendengar gambaran neraka dalam kitab-kitab tafsir.

Selain ayat-ayat sam’iyah (yang didengar melalui wahyu), jamaah juga diajak memperhatikan ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda kekuasaan Allah yang tampak di alam semesta, seperti gunung berapi dan fenomena alam lainnya. Menurutnya, pengamatan terhadap tanda-tanda tersebut dapat menguatkan keimanan sebagaimana halnya memahami peristiwa Isra Mikraj melalui ayat-ayat Al-Qur’an.

Kajian turut membahas peringatan Allah kepada orang-orang kafir yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, termasuk malaikat atau nabi, seperti keyakinan sebagian golongan terhadap Nabi Isa atau Nabi Uzair. “Tidak ada yang mampu memberi manfaat atau menolong dari azab Allah kecuali Allah sendiri,” tegasnya.

Di akhir penjelasan, Beliau mengingatkan jamaah mengenai pentingnya menjaga hati agar tidak tertutup dari kebenaran. Hati yang tertutup, menurutnya, diibaratkan seperti wadah terbalik yang tidak mampu menerima air, sebagaimana orang kafir yang enggan menerima petunjuk. Beliau membandingkannya dengan hati orang munafik yang hanya miring, sesekali menerima, tetapi mudah menolak kebenaran.

Selain itu, Mbah Mun juga membacakan doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW, termasuk doa memohon keteguhan hati dalam iman. Beliau mengajak jamaah untuk memperbanyak zikir dalam berbagai aktivitas, mulai dari memasuki masjid, keluar rumah, hingga saat berwudu dan melaksanakan salat.

Kegiatan ditutup dengan doa agar jamaah senantiasa diberikan hidayah, dijauhkan dari fitnah, dan ditetapkan di jalan yang lurus. “Semoga apa yang kita pelajari membawa manfaat dan keberkahan bagi keluarga dan kehidupan kita,” tutupnya.