Haji sebagai Bentuk Kepasrahan kepada Allah
Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Agung Darussalam Bojonegoro usai shalat Subuh ketika jamaah mengikuti kajian keislaman yang disampaikan oleh Ustadz Kholillurrochman, S.Ag. Dalam tausiyahnya, ia mengajak umat Islam memanfaatkan kehidupan sebagai kesempatan untuk terus memperbaiki diri, memperkuat ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, Ahad (10/5/2026).
Suasana
khusyuk menyelimuti Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro usai shalat Subuh ketika jamaah mengikuti kajian keislaman
yang disampaikan oleh Ustadz Kholillurrochman,
S.Ag. Dalam tausiyahnya, ia mengajak umat Islam memanfaatkan kehidupan
sebagai kesempatan untuk terus memperbaiki diri, memperkuat ibadah, dan
mendekatkan diri kepada Allah SWT, Ahad (10/5/2026).
Kajian diawali dengan ajakan untuk
bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup oleh Allah SWT. Menurut beliau,
hidup hendaknya digunakan untuk menjalankan perintah Allah serta menjauhi
segala larangan-Nya agar memperoleh ridha dan keselamatan di akhirat. Jamaah
juga diajak memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk cinta
sekaligus harapan memperoleh syafaat beliau kelak di hari kiamat.
Dalam tausiyahnya, Ustadz
Kholillurrochman menyoroti makna ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam
yang diwajibkan bagi umat Muslim yang mampu, baik secara finansial, kesehatan,
maupun kesempatan. Ia menjelaskan bahwa setiap perintah Allah selalu disertai
kemampuan yang telah dipersiapkan oleh-Nya kepada manusia. Karena itu, umat
Islam diminta tidak merasa berat dalam menjalankan kewajiban agama.
Ia juga mengulas kisah Nabi Ibrahim
AS ketika diperintahkan Allah untuk menyeru manusia melaksanakan ibadah haji.
Meski merasa suaranya tidak mungkin menjangkau seluruh umat manusia, Nabi
Ibrahim tetap menjalankan perintah tersebut karena Allah menjamin bahwa seruan
itu akan sampai kepada manusia. Dari kisah itu, beliau menegaskan pentingnya
menjalankan perintah Allah tanpa ragu terhadap hasilnya.
Salah satu bagian yang mendapat
perhatian jamaah adalah penjelasan mengenai makna talbiyah “Labbaik
Allahumma Labbaik”. Menurutnya, kalimat tersebut bukan sekadar ucapan,
tetapi bentuk kesiapan total seorang hamba memenuhi panggilan Allah SWT. Ia
mengibaratkan talbiyah seperti jawaban seorang bawahan kepada atasannya
yang siap menjalankan perintah.
Selain itu, Ustadz Kholillurrochman
menekankan bahwa dalam ibadah haji, manusia diajarkan untuk mengembalikan
seluruh pujian, kenikmatan, dan jabatan kepada Allah SWT. Ia mengingatkan agar
seseorang tidak berhaji demi memperoleh gelar atau pujian dari manusia.
Menurutnya, semua kemuliaan dan nikmat sejatinya hanyalah milik Allah semata.
Di akhir kajian, ia mengajak jamaah
untuk terus menjaga tauhid dan menjauhi perbuatan syirik. Ia menegaskan bahwa
Allah mengampuni seluruh dosa kecuali dosa syirik apabila tidak bertaubat.
Karena itu, umat Islam diminta senantiasa mengesakan Allah dalam setiap aspek
kehidupan.
Kajian Subuh tersebut ditutup dengan doa agar seluruh jamaah diberikan kesehatan, keberkahan hidup, serta dimudahkan untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah di masa mendatang.
