Hakikat Hijrah dalam Islam
Kajian rutin setelah Shalat Subuh kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dengan menghadirkan Ustadz Dr. Yogi Prana Izza, Lc., M.A. sebagai pemateri. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema tentang hakikat hijrah dalam Islam, khususnya momentum memasuki Tahun Baru Hijriah yang menjadi saat tepat bagi umat Islam untuk melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, Rabu (17/6/2026).
Kajian
rutin setelah Shalat Subuh kembali digelar di Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro dengan menghadirkan Ustadz Dr. Yogi Prana Izza, Lc., M.A. sebagai
pemateri. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema tentang hakikat
hijrah dalam Islam, khususnya momentum memasuki Tahun Baru Hijriah yang menjadi
saat tepat bagi umat Islam untuk melakukan perubahan menuju kehidupan yang
lebih baik, Rabu (17/6/2026).
Di
awal tausiyahnya, Ustadz Yogi mengajak seluruh jamaah untuk bersyukur atas
nikmat iman dan Islam yang masih Allah SWT anugerahkan. Menurutnya, nikmat
terbesar seorang Muslim adalah mampu menjaga keimanan hingga akhir hayat dan
meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Memasuki
bulan Muharram sebagai awal tahun Hijriah, beliau menegaskan bahwa makna hijrah
tidak hanya sekadar perpindahan tempat sebagaimana hijrahnya para sahabat
Rasulullah SAW dari Makkah menuju Habasyah (Ethiopia), tetapi lebih luas
sebagai perpindahan dari keburukan menuju kebaikan demi mencari ridha Allah SWT.
Dalam
penjelasannya, Ustadz Yogi mengutip firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 41 yang
menjelaskan balasan bagi orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Beliau
mencontohkan bagaimana para sahabat rela meninggalkan keluarga, kampung
halaman, dan kenyamanan hidup demi mempertahankan keimanan mereka.
Menurut
beliau, hijrah memiliki dua dimensi utama. Pertama adalah Hijrah Makaniyah,
yaitu perpindahan fisik dari lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang aman
bagi keimanan. Kedua adalah Hijrah Maknawiyah, yakni meninggalkan dosa dan
segala hal yang dilarang Allah SWT.
Lebih
lanjut, Ustadz Yogi menjelaskan bahwa hijrah sejati dimulai dari perubahan cara
berpikir atau Hijrah Fikriyah. Ia mengingatkan pentingnya umat Islam keluar
dari dua bentuk kebodohan.
Pertama
adalah kebodohan intelektual, yakni kurangnya ilmu yang dapat menimbulkan
penyebaran berita bohong, provokasi, dan kesalahan dalam mengambil keputusan.
Beliau mencontohkan kisah Bani Musthaliq pada masa Rasulullah SAW yang hampir
memicu konflik akibat informasi yang tidak diklarifikasi dengan benar.
Kedua
adalah kebodohan moral (jahlu akhlaki), yaitu ketidakmampuan seseorang
mengendalikan hawa nafsu dan emosinya meskipun memiliki ilmu tinggi. Menurut
beliau, kebodohan moral jauh lebih berbahaya karena melahirkan sifat egoisme,
kezaliman, korupsi, serta berbagai tindakan merugikan orang lain.
“Banyak
orang berpendidikan tinggi, bergelar doktor bahkan profesor, tetapi gagal
mengendalikan akhlaknya. Inilah yang disebut kebodohan moral,” jelasnya di
hadapan jamaah.
Pada
bagian akhir kajian, Ustadz Yogi menekankan pentingnya Hijrah Qalbiyah, yaitu
hijrah hati dengan membersihkan berbagai penyakit hati seperti iri dengki (hasad),
dendam (hiqd), sombong, dan berbagai penyakit batin lainnya.
Beliau
mengingatkan bahwa rasa hasad dapat menghapus pahala amal ibadah sebagaimana
api membakar kayu. Cara melawannya, menurut para ulama, adalah dengan mendoakan
orang yang kita iri agar Allah memberkahi nikmat yang dimilikinya.
Selain
itu, beliau juga mengajak jamaah untuk menjauhi dendam berkepanjangan. Sebab
seseorang yang awalnya merasa dizalimi dapat berubah menjadi orang yang
menzalimi ketika membalas secara berlebihan.
Menutup
kajian, Ustadz Yogi mengajak seluruh jamaah menjadikan bulan Muharram sebagai
momentum introspeksi diri dan memperbaiki kualitas hati.
“Sering
kali kita sibuk memperbaiki penampilan lahiriah karena ingin dipandang manusia,
padahal Allah setiap hari melihat kondisi hati kita. Maka hijrah terbaik adalah
memperbaiki hati kita di hadapan Allah SWT,” pungkasnya.
Kajian Subuh rutin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terus menjadi sarana memperkuat ilmu, memperdalam spiritualitas, dan membangun kesadaran umat agar senantiasa istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT.
