Hakikat Karomah dan Keikhlasan Beribadah
Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Agung Darussalam Bojonegoro saat jamaah mengikuti kajian rutin setelah shalat Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag.. Dalam kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, ia mengingatkan pentingnya menjauhi sifat sombong dan merasa memiliki kemuliaan layaknya sifat rububiyah milik Allah SWT, Jum’at (8/5/2026).
Suasana
khusyuk menyelimuti Masjid Agung Darussalam Bojonegoro saat jamaah mengikuti
kajian rutin setelah shalat Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki
Azmi, M.Ag.. Dalam kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, ia
mengingatkan pentingnya menjauhi sifat sombong dan merasa memiliki kemuliaan
layaknya sifat rububiyah milik Allah SWT, Jum’at (8/5/2026).
Dalam
tausiyahnya, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menjelaskan bahwa manusia seharusnya
menyadari kelemahan dirinya dan selalu bersandar kepada kebesaran Allah SWT.
Menurutnya, seorang hamba tidak boleh merasa paling mulia, paling suci, atau
paling hebat karena seluruh keagungan sejatinya hanya milik Allah.
Kajian
tersebut juga membahas tentang hakikat karomah. Ia menjelaskan bahwa sebagian
orang memahami karomah sebagai kemampuan luar biasa, seperti berjalan di atas
air atau berpindah tempat dengan cepat. Namun, menurut beliau, karomah yang
paling hakiki justru adalah kemampuan seorang hamba untuk istiqamah dalam ibadah,
menjaga hati agar selalu ingat kepada Allah, serta mampu menjalankan salat
malam dan amal saleh secara konsisten.
Ustadz
Ahmad Rifki Azmi menegaskan bahwa keistimewaan spiritual tidak boleh dijadikan
sarana untuk mencari pujian atau kebanggaan diri. Ia mengingatkan bahwa
seseorang yang memperoleh kelebihan tertentu tetapi masih dikuasai hawa nafsu
dan kesombongan justru belum mencapai keikhlasan sejati dalam beribadah kepada
Allah SWT.
Selain
itu, jamaah diajak untuk memperbaiki kualitas ibadah lahir dan batin, termasuk
ketika membaca Al-Qur’an. Menurutnya, membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya
melafalkan ayat, tetapi juga harus disertai penghayatan terhadap makna rahmat,
perintah, maupun larangan Allah SWT.
Dalam penutup kajian, ia mengingatkan bahwa perjalanan mendekat kepada Allah membutuhkan keikhlasan dan perjuangan melawan hawa nafsu. Seorang hamba dianjurkan tidak terjebak mengejar keistimewaan duniawi, melainkan fokus memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah yang tulus dan istiqamah.
