Ikhlas Beramal dan Tawakal dalam Kehidupan Sehari-hari
Bojonegoro, Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti kuliah Shubuh. Kali ini, tema yang dibahas tentang keikhlasan dalam beramal dan makna tawakal kepada Allah SWT. Kuliah Shubuh disampaikan dengan merujuk pada kitab tasawuf klasik karya Syekh Abu Thalib Al-Makki, yang menekankan pentingnya memurnikan niat dalam setiap perbuatan, Rabu (7/1/2026).
Bojonegoro, Jamaah Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro mengikuti kuliah Shubuh. Kali ini, tema yang dibahas tentang
keikhlasan dalam beramal dan makna tawakal kepada Allah SWT. Kuliah Shubuh
disampaikan dengan merujuk pada kitab tasawuf klasik karya Syekh Abu Thalib
Al-Makki, yang menekankan pentingnya memurnikan niat dalam setiap perbuatan,
Rabu (7/1/2026).
Dalam tausiyahnya, Ustadz Yogi mengulas
ayat tentang memberi makan semata-mata karena mengharap ridha Allah, tanpa
menginginkan balasan maupun ucapan terima kasih. Pesan itu, menurutnya, menjadi
fondasi akhlak sosial umat Islam.
“Kebaikan jangan dihitung sebagai
transaksi. Berbuatlah karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau dibalas,”
ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, amal manusia pada
hakikatnya tidak akan pernah sebanding dengan besarnya nikmat Allah. Karena
itu, seseorang tidak layak merasa berjasa atas ibadah atau sedekah yang
dilakukan. Semua, katanya, tetap bergantung pada rahmat Tuhan.
Sebagai ilustrasi, ia mengisahkan
riwayat tentang seorang laki-laki dari Habasyah yang bertanya kepada Nabi
Muhammad SAW apakah dirinya dapat masuk surga meski berbeda rupa dan asal-usul.
Rasulullah menegaskan, kemuliaan bukan ditentukan warna kulit atau status,
melainkan iman dan amal saleh. Kisah itu menjadi penguat bahwa ukuran utama di
sisi Allah adalah ketakwaan.
Kajian kemudian berlanjut pada
pembahasan tawakal, yakni sikap berserah diri setelah melakukan ikhtiar. Ustadz
Yogi mencontohkan kisah Nabi Yakub yang meminta anak-anaknya masuk ke Mesir
melalui pintu berbeda sebagai bentuk usaha, namun tetap menyadari bahwa
keputusan akhir berada di tangan Allah.
“Tubuh bergerak berikhtiar, tetapi
hati bersandar kepada Allah. Itulah tawakal,” katanya.
Menurut Ustadz Yogi, usaha dan doa
harus berjalan beriringan. Manusia tetap wajib merencanakan dan bekerja keras,
namun tidak boleh merasa sepenuhnya menentukan hasil. Ketika hasil tidak sesuai
harapan, hal itu dipahami sebagai bagian dari takdir yang mengandung hikmah.
Ia juga mengingatkan jamaah agar
berhati-hati terhadap sikap berlebihan, baik dalam ibadah maupun dalam
memamerkan nikmat. Moderasi, katanya, adalah jalan yang diajarkan agama:
bekerja, beribadah, sekaligus menjaga keluarga dan kesehatan.
Di akhir kajian, jamaah diajak memperbanyak dzikir dan syukur, terutama menjelang datangnya bulan Rajab sebagai persiapan menuju Ramadan. Doa bersama dipanjatkan agar diberi keberkahan usia, rezeki, ilmu, dan keluarga.
