Detail Berita

Islam Mengajarkan Kerja Keras dan Tawakkal

Kajian rutin setelah Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Tausiyah disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A. yang melanjutkan pembahasan Kitab Qutul Qulub, dengan tema besar tentang hakikat bekerja, mencari penghidupan, dan kaitannya dengan tawakal kepada Allah SWT, Rabu (24/6/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Tausiyah disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A. yang melanjutkan pembahasan Kitab Qutul Qulub, dengan tema besar tentang hakikat bekerja, mencari penghidupan, dan kaitannya dengan tawakal kepada Allah SWT, Rabu (24/6/2026).

Dalam pemaparannya, Dr. Yogi menegaskan bahwa bekerja dan mencari nafkah sama sekali tidak bertentangan dengan sikap tawakal, selama seseorang benar-benar meletakkan kepercayaannya kepada Allah secara benar. Menurut beliau, sebagian orang keliru memahami zuhud dengan meninggalkan usaha dan pekerjaan, padahal Islam justru mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan penyerahan hati sepenuhnya kepada Allah SWT.

Beliau menjelaskan bahwa terdapat dua prinsip utama agar seseorang tetap berada dalam koridor tawakal ketika bekerja. Prinsip pertama adalah an-nazhar ilal wakil, yakni memulai segala usaha dengan menyadari bahwa Allah adalah Al-Wakil, Dzat yang menjadi tempat bersandar sepenuhnya. Sebelum memulai aktivitas, seorang muslim harus menanamkan keyakinan bahwa seluruh urusan hakikatnya berada dalam kekuasaan Allah, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS ketika mengucapkan Hasbunallah wa ni’mal wakil.

Prinsip kedua adalah ar-ridha bil hukmi, yaitu ridha terhadap segala hasil akhir setelah usaha dilakukan. Menurut beliau, seseorang harus menerima sepenuhnya ketentuan Allah, baik hasilnya sesuai harapan maupun tidak. Tanda seseorang benar-benar ridha antara lain tidak mudah mengeluh, tidak terjebak dalam ucapan “andaikan tadi…”, tetap menjaga husnuzan kepada Allah, mampu menjaga stabilitas emosi saat gagal maupun berhasil, serta tidak berkurang ketaatannya setelah menghadapi kegagalan.

Dalam kajian tersebut, beliau juga mengingatkan bahwa Allah telah menjadikan siang hari sebagai waktu untuk bekerja dan mencari penghidupan, sementara malam hari diciptakan sebagai waktu istirahat. Karena itu, manusia tidak boleh menzalimi dirinya sendiri dengan memaksakan fisik, pikiran, maupun hati secara berlebihan hingga melupakan hak tubuh untuk beristirahat.

Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, Dr. Yogi menyampaikan bahwa makanan paling halal adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan setiap transaksi yang baik serta jujur merupakan sumber rezeki yang penuh keberkahan. Islam sangat menghargai orang-orang yang bekerja dan produktif, bahkan para nabi terdahulu pun memiliki profesi dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Beliau juga mengutip perkataan sahabat Abdullah ibn Mas'ud yang tidak menyukai orang yang hidup dalam keadaan menganggur, tidak memiliki aktivitas dunia maupun amal akhirat. Menurut beliau, pengangguran berpotensi merusak kehormatan diri, membuka peluang kemaksiatan akibat waktu kosong, serta bertentangan dengan sunnah para nabi yang semuanya dikenal sebagai pribadi pekerja keras.

Menutup kajian, Dr. Yogi kembali menekankan bahwa seorang muslim harus terus bergerak, bekerja, dan berusaha secara maksimal, tanpa kehilangan kesadaran bahwa hasil akhir sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah SWT. Tidak ada pertentangan antara bekerja dan tawakal, justru keduanya harus berjalan beriringan dalam kehidupan seorang mukmin.

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini menjadi pengingat bahwa Islam mengajarkan keseimbangan yang indah antara kerja keras, ikhtiar yang maksimal, dan ketenangan hati dalam menerima segala keputusan Allah SWT. Dengan demikian, seorang muslim akan mampu menjalani hidup secara produktif sekaligus tetap menjaga kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta.

“Tidak ada masalah dengan bekerja, selama dimulai dengan bersandar kepada Allah dan diakhiri dengan ridha atas segala ketetapan-Nya.” — Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A.