Islam Menolak Ibadah Ekstrem dan Menekankan Istikamah
BOJONEGORO — Islam mengajarkan kemudahan dan keseimbangan dalam beribadah, serta menolak sikap berlebihan yang justru dapat melemahkan semangat beragama. Pesan tersebut mengemuka dalam sebuah kajian hadis DI Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang membahas larangan beribadah secara ekstrem, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, Sabtu (29/11/2025).
BOJONEGORO
— Islam mengajarkan kemudahan dan keseimbangan dalam beribadah, serta menolak
sikap berlebihan yang justru dapat melemahkan semangat beragama. Pesan tersebut
mengemuka dalam sebuah kajian hadis DI Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang
membahas larangan beribadah secara ekstrem, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad
SAW, Sabtu (29/11/2025).
Dalam
kajian yang merujuk pada bab banyaknya jalan kebaikan, Ustadz Rifki
menjelaskan bahwa ibadah tidak dimaksudkan untuk memberatkan manusia. Praktik
ibadah yang dilakukan secara berlebihan seperti shalat malam tanpa istirahat
atau puasa terus-menerus tanpa jeda justru berpotensi menimbulkan kelelahan
fisik dan kejenuhan batin, sehingga sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Ustadz
Rifki menegaskan bahwa ibadah yang paling dicintai Allah adalah ibadah yang
dilakukan secara konsisten meskipun jumlahnya sedikit. Prinsip ini, menurutnya,
sejalan dengan pandangan para ulama bahwa kualitas dan keikhlasan ibadah lebih
utama daripada kuantitas yang tidak berkesinambungan. Dua rakaat shalat tahajud
yang dikerjakan secara rutin bertahun-tahun dinilai lebih berdampak pada
pembentukan hati dibandingkan ibadah besar yang hanya dilakukan sesaat.
Dalam
kajian tersebut juga disampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan
keseimbangan hidup. Beliau beribadah, beristirahat, berkeluarga, dan
bermasyarakat secara proporsional. Islam, karenanya, tidak membenarkan sikap
meremehkan syariat dengan alasan spiritualitas, maupun sikap berlebihan yang
melampaui batas ajaran.
Ustadz
Rifki mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam memahami makna kesalehan.
Kesalehan tidak diukur dari sikap fanatik atau memaksakan diri, melainkan dari
kemampuan menjaga ketaatan secara berkelanjutan. Setiap orang, ditegaskan,
memiliki kapasitas yang berbeda-beda dalam beribadah, dan Islam memberikan
ruang kelonggaran sesuai kemampuan masing-masing.
Kajian
ini juga menyoroti pentingnya sikap pertengahan (wasathiyah) dalam
seluruh aspek kehidupan beragama. Kebaikan, menurut pemateri, berada di
tengah-tengah antara dua sikap ekstrem: terlalu longgar dan terlalu kaku.
Prinsip pertengahan inilah yang menjadi ciri ajaran Islam dan kunci agar ibadah
tetap membawa ketenangan, bukan beban.
Kajian ditutup dengan ajakan agar umat Islam menata ibadah secara realistis, berlandaskan ilmu, dan dibimbing oleh guru. Dengan demikian, ibadah tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga memberi pengaruh positif bagi pembentukan akhlak dan keteguhan iman dalam kehidupan sehari-hari.
