Islam Tegak Karena Akhlak, Bukan Sekadar Mukjizat
Kajian rutin Sabtu Malam Ahad Wage di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan penuh antusias jamaah. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A., yang membahas pentingnya akhlak, keadilan, tauhid, dan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari, Sabtu (16/5/2026).
Kajian
rutin Sabtu Malam Ahad Wage di Masjid Agung
Darussalam kembali digelar dengan penuh antusias jamaah. Kajian kali ini
disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A., yang membahas pentingnya
akhlak, keadilan, tauhid, dan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari, Sabtu
(16/5/2026).
Dalam ceramahnya, Ustadz Yogi
menjelaskan bahwa kemuliaan akhlak menjadi salah satu amalan yang paling dekat
dengan Rasulullah SAW di akhirat kelak. Beliau mengutip hadis Nabi bahwa orang
yang paling dekat dengan Rasulullah adalah mereka yang memiliki akhlak terbaik.
Menurutnya, Islam ditegakkan bukan semata-mata melalui mukjizat, tetapi melalui
nilai-nilai akhlak mulia yang diajarkan Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah
SAW.
Beliau kemudian mengulas makna
keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Keadilan tidak hanya berarti memberikan
hak kepada yang berhak, tetapi juga berlaku adil kepada keluarga, pasangan,
anak, hingga orang-orang terdekat. Ustadz Yogi mencontohkan bahwa banyak orang
mampu bersikap baik di luar rumah, namun justru tidak adil kepada keluarganya
sendiri karena hanya memberikan “sisa energi” setelah lelah bekerja.
Selain itu, Ustadz Dr. H. Yogi
Prana Izza juga menyoroti pentingnya menjaga kemurnian tauhid dan tidak
menggantungkan hati kepada selain Allah SWT. Segala usaha, obat, pekerjaan,
maupun rezeki hanyalah sarana, sedangkan hasil akhirnya tetap bergantung pada
izin Allah. Beliau mengingatkan jamaah agar mendahulukan tawakal kepada Allah
sebelum berusaha, bukan sebaliknya.
Ustadz Dr. H. Yogi Prana Izza juga
mengajak jamaah memahami konsep ihsan, yakni berbuat baik karena Allah telah
lebih dahulu berbuat baik kepada manusia, bukan semata berharap balasan dari
manusia. Menurut beliau, keikhlasan menjadi kunci agar seseorang tidak mudah
kecewa ketika kebaikannya tidak dihargai.
Di akhir pengajian, jamaah diajak memperkuat silaturahim dan lebih peduli kepada keluarga serta kerabat dekat. Memberi kepada keluarga, menurut beliau, memiliki keutamaan ganda karena mengandung pahala sedekah sekaligus pahala menyambung hubungan kekeluargaan. Pengajian ditutup dengan doa bersama dan harapan agar seluruh jamaah dapat mengamalkan nilai-nilai Islam dengan penuh keikhlasan dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
