Detail Berita

Jadikan Alam sebagai Jalan Mengenal Allah

Kajian rutin setelah Shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. sebagai pemateri. Dalam kajian lanjutan Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari, beliau mengajak jamaah mengubah cara memandang alam semesta. Segala sesuatu yang ada di sekitar manusia hendaknya menjadi jalan untuk semakin mengenal Allah SWT, bukan justru menjadi penghalang hati dari-Nya, Jum’at (17/07/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. sebagai pemateri. Dalam kajian lanjutan Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari, beliau mengajak jamaah mengubah cara memandang alam semesta. Segala sesuatu yang ada di sekitar manusia hendaknya menjadi jalan untuk semakin mengenal Allah SWT, bukan justru menjadi penghalang hati dari-Nya, Jum’at (17/07/2026).

Mengawali kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menjelaskan hikmah dari ungkapan Imam Ibnu Athaillah, "Tahwilul Kauni minal Hijabi ila Dalil", yaitu mengubah pandangan terhadap alam semesta dari sekadar objek duniawi menjadi dalil atau petunjuk yang mengantarkan seseorang kepada Allah SWT.

Beliau mengibaratkan alam seperti sebuah rambu penunjuk jalan. Orang yang hanya terpaku pada papan petunjuk akan berhenti pada tulisan itu saja, sedangkan orang yang memahami fungsinya akan menjadikannya sebagai penunjuk menuju tujuan sebenarnya. Demikian pula dunia; jangan sampai manusia hanya terpikat oleh keindahan ciptaan, tetapi lupa kepada Sang Pencipta.

Menurut beliau, setiap peristiwa di alam semesta merupakan manifestasi dari kekuasaan Allah. Terbangnya burung, terbitnya matahari, datangnya nikmat maupun ujian, semuanya menjadi bukti sifat-sifat Allah yang Maha Pengasih, Maha Bijaksana, Maha Mendengar, dan Maha Melihat. Semakin seseorang merenungkan ciptaan-Nya, semakin kuat pula pengenalannya kepada Allah SWT.

Ustadz Ahmad Rifki Azmi juga menegaskan pentingnya melatih hati agar selalu sadar akan kehadiran Allah. Kesadaran tersebut tidak muncul secara instan, tetapi harus dibiasakan melalui zikir dan tafakur. Beliau menganjurkan agar setiap hari menyediakan waktu, meskipun hanya beberapa menit, untuk mengingat Allah dan merenungi kebesaran-Nya sehingga hati tidak dikuasai oleh kesibukan dunia.

Dalam penjelasannya, beliau mengutip pandangan para ulama bahwa seluruh makhluk tidak memiliki keberadaan yang mandiri. Semua yang ada bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT. Karena itu, manusia tidak boleh terpesona kepada makhluk semata, tetapi harus melihat bahwa di balik seluruh ciptaan terdapat kehendak dan kekuasaan Allah yang mengatur semuanya.

Beliau juga mengingatkan bahwa para wali Allah memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terhadap kehadiran Allah dalam setiap keadaan. Meski demikian, umat Islam tidak dituntut langsung mencapai tingkatan tersebut. Yang terpenting adalah terus melatih diri agar semakin sering mengingat Allah, walaupun dimulai dari waktu yang singkat namun dilakukan secara istiqamah.

Mengakhiri kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan setiap nikmat, ujian, dan fenomena kehidupan sebagai sarana memperkuat keimanan. Dengan hati yang senantiasa dihiasi zikir dan tafakur, seorang muslim akan lebih mudah menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon taufik dan hidayah agar Allah senantiasa membimbing langkah setiap hamba menuju kedekatan kepada-Nya.