Jangan Biarkan Masalah Dunia Membuat Hati Menjadi Gelap
Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar menambah pengetahuan dan wawasan, tetapi harus mampu menjadikan hati seseorang semakin terang sehingga dapat melihat kehidupan dengan pandangan yang benar. Hal tersebut disampaikan Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. dalam Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah memahami pentingnya mengelola hati agar tidak mudah larut dalam kesedihan karena persoalan dunia, Senin (14/07/2026).
Ilmu
yang bermanfaat bukan sekadar menambah pengetahuan dan wawasan, tetapi harus
mampu menjadikan hati seseorang semakin terang sehingga dapat melihat kehidupan
dengan pandangan yang benar.
Hal
tersebut disampaikan Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. dalam Kajian Shubuh di
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah
memahami pentingnya mengelola hati agar tidak mudah larut dalam kesedihan
karena persoalan dunia, Senin (14/07/2026).
Menurut
Ustadz Khafif, hati yang terang akan mampu melihat sesuatu secara jernih.
Kebaikan akan terlihat sebagai kebaikan, keburukan dapat dikenali sebagai
keburukan, dan keindahan ciptaan Allah dapat dirasakan dengan penuh kesadaran.
Sebaliknya,
ketika hati masih gelap dan sempit, kehidupan yang sebenarnya dipenuhi
keindahan ciptaan Allah dapat terasa penuh masalah dan keluhan.
“Bukan
karena tidak indahnya ciptaan Allah, tetapi karena hati kita yang masih gelap,”
jelasnya.
Ia
mengibaratkan seseorang yang menikmati pemandangan indah tetapi menggunakan
kacamata gelap. Keindahan yang ada di hadapannya menjadi tidak terlihat secara
sempurna. Demikian pula hati manusia. Ketika hati tidak bersih dan tidak
terang, seseorang akan kesulitan memandang kehidupan dengan penuh keindahan dan
rasa syukur.
Dalam
kajiannya, Ustadz Khafif menjelaskan bahwa dunia memang memiliki berbagai
persoalan dan kerumitan. Namun, keadaan tersebut bukan tanpa tujuan.
Berbagai
persoalan dunia seharusnya menjadikan manusia semakin mudah kembali mengingat
dan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Menurutnya,
apabila seseorang menggantungkan seluruh kebahagiaannya kepada perkara dunia,
maka ia akan mudah kecewa dan sengsara. Sebab, sifat dunia tidak pernah
sepenuhnya memberikan ketenangan.
Tidak
ada kebahagiaan dunia yang benar-benar terlepas dari kesulitan. Ketika
seseorang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, sering kali bersamaan dengan
itu muncul tanggung jawab, kekhawatiran, maupun persoalan baru.
Ustadz
Khafif mencontohkan harta. Semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, tidak
selalu membuat hati semakin tenang. Jika tidak mampu mengelola hati, manusia
justru dapat terus merasa kurang dan tidak pernah puas.
“Dunia
itu memang bisa membuat manusia selalu merasa kurang, selalu merasa tidak puas,
sehingga akhirnya diperbudak oleh dunia,” terangnya.
Ustadz
Khafif mengingatkan jamaah agar tidak mudah larut dalam kesedihan karena
persoalan duniawi. Sebab, rezeki dan kebutuhan manusia telah berada dalam
ketentuan Allah.
Ketika
hati terus dipenuhi kesedihan dan keluhan karena dunia, persoalan yang
sebenarnya kecil dapat terasa sangat besar.
Menurutnya,
tidak ada masalah yang lebih besar daripada kekuasaan Allah. Karena itu,
persoalan kehidupan sebenarnya akan terasa lebih ringan ketika manusia memiliki
hati yang luas dan terang.
“Masalah
yang sebenarnya kecil terasa besar karena hati kita masih gelap dan sempit.
Bukan karena masalahnya terlalu berat, tetapi hati kita yang masih sempit,”
jelasnya.
Karena
itu, seorang muslim perlu belajar mengelola hati agar tetap optimistis, lapang
dan bahagia dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Berbeda
dengan persoalan dunia, Ustadz Khafif menjelaskan bahwa rasa susah dan
kegelisahan terhadap urusan akhirat justru dapat menjadi cahaya bagi hati.
Seorang
muslim seharusnya merasa gelisah ketika shalatnya belum khusyuk, zikirnya masih
sedikit, atau dirinya masih kesulitan meninggalkan maksiat.
“Ya
Allah, shalat saya kok belum bisa khusyuk. Zikir saya kok belum banyak. Maksiat
saya kok belum bisa berhenti. Susah dalam hal akhirat justru menjadikan hati
semakin terang,” tuturnya.
Kegelisahan
terhadap kualitas ibadah akan mendorong seseorang untuk melakukan introspeksi
dan memperbaiki diri. Sebaliknya, kesedihan berlebihan terhadap perkara dunia
justru dapat menjadikan hati semakin gelap.
Dalam
kesempatan tersebut, Ustadz Khafif juga menekankan pentingnya menjalankan
ibadah dengan hati yang ridha, lapang dan bahagia.
Menurutnya,
shalat, zikir dan doa yang disertai keridhaan kepada Allah memiliki bobot yang
besar. Hati yang penuh rasa syukur akan menjadikan seorang hamba semakin dekat
kepada Allah.
“Satu
shalat dan satu zikir yang dibarengi hati ridha dan bahagia jauh lebih berbobot
daripada banyak ibadah yang dilakukan dengan hati tidak ridha,” jelasnya.
Ia
mengajak jamaah untuk membangun kesadaran bahwa nikmat Allah terus diberikan
meskipun manusia masih memiliki banyak kekurangan dan sering tergelincir dalam
kesalahan.
Kesadaran
tersebut seharusnya melahirkan rasa syukur. Doa yang lahir dari hati yang
bersyukur, bahagia dan ridha diharapkan lebih mudah mendapatkan pertolongan
Allah.
Lebih
lanjut, Ustadz Khafif menyebutkan bahwa kesedihan berlebihan terhadap persoalan
dunia dapat memberikan dampak terhadap kehidupan manusia.
Pikiran
yang terus-menerus dipenuhi keruwetan dan kesusahan dapat mempengaruhi kondisi
tubuh. Ia menjelaskan bahwa ketika pikiran kacau dan penuh tekanan, ketahanan
tubuh dapat menurun sehingga seseorang lebih mudah mengalami gangguan
kesehatan.
Selain
itu, kebiasaan mengeluh juga dapat menjauhkan seseorang dari rasa syukur.
“Syukur
menetapkan nikmat dan mendatangkan nikmat yang belum ada. Sedangkan kufur dapat
menghilangkan nikmat yang sudah ada,” terangnya.
Karena
itu, seseorang yang terus mengeluh terhadap kehidupan dunia perlu berhati-hati.
Keluhan dapat menjadi tanda bahwa hati belum mampu melihat berbagai nikmat yang
telah Allah berikan.
Pada
bagian akhir kajian, Ustadz Khafif mengingatkan bahwa keadaan hati seseorang di
dunia memiliki pengaruh terhadap perjalanan kehidupannya.
Orang
yang terbiasa bersyukur dan mengelola hati agar tetap bahagia akan memiliki
kehidupan yang lebih lapang. Sebaliknya, seseorang yang terus membiarkan
hatinya dipenuhi kesedihan dan keluhan akan semakin sulit merasakan nikmat
Allah.
Ia
kemudian mengingatkan gambaran para wali dan kekasih Allah sebagaimana
disebutkan dalam Al-Qur'an. Mereka adalah orang-orang yang tidak dikuasai rasa
takut dan kesedihan.
Karena
itu, kemampuan mengelola hati agar tetap bahagia dalam menghadapi persoalan
dunia menjadi salah satu ikhtiar penting untuk mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
“Kelola
hati agar tetap bahagia dalam hal duniawi. Insyaallah, ini menjadi salah satu
wasilah terbesar agar kita semakin dekat kepada Allah,” pesannya.
Melalui Kajian Shubuh tersebut, Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. mengajak jamaah untuk tidak membiarkan persoalan dunia membuat hati menjadi gelap dan sempit. Seorang muslim harus belajar memperluas hati dengan ilmu, syukur dan keridhaan kepada Allah, serta menjadikan kegelisahan terhadap kualitas ibadah sebagai jalan untuk terus memperbaiki diri.
