Jangan Meremehkan Dosa Kecil
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menggelar kajian rutin usai Shalat Subuh berjamaah. Dalam kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Abuya Hasan Nur, yang mengajak seluruh jamaah untuk memperkuat ketakwaan, meningkatkan ibadah, serta melakukan introspeksi diri di momentum datangnya Tahun Baru Islam, Muharram 1448 Hijriah, Kamis (18/6/2026).
Masjid
Agung Darussalam Bojonegoro kembali menggelar kajian rutin usai Shalat Subuh
berjamaah. Dalam kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Abuya Hasan
Nur, yang mengajak seluruh jamaah untuk memperkuat ketakwaan, meningkatkan
ibadah, serta melakukan introspeksi diri di momentum datangnya Tahun Baru
Islam, Muharram 1448 Hijriah, Kamis (18/6/2026).
Dalam
pembukaannya, Abuya Hasan Nur mengingatkan bahwa hakikat ketakwaan adalah
menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia
mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kesehatan, kesempatan
beribadah, dan karunia Allah sehingga masih diberi kekuatan untuk menegakkan
Shalat Subuh berjamaah di masjid.
Pada
inti kajiannya, Abuya Hasan Nur menyoroti bahaya seseorang yang terbiasa
melakukan maksiat namun tidak lagi merasa bersalah. Menurutnya, kondisi paling
berbahaya bukan hanya ketika seseorang berbuat dosa, melainkan ketika dosa itu
dianggap biasa hingga hati kehilangan rasa penyesalan. Ia mencontohkan orang
yang meninggalkan shalat, tidak berpuasa, atau melakukan berbagai pelanggaran
agama tetapi tetap merasa aman dan menganggap hidupnya baik-baik saja. Sikap
seperti inilah yang dapat menyeret manusia pada kebinasaan jika tidak segera
bertaubat.
Sebaliknya,
Abuya menegaskan bahwa manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan. Namun,
kemuliaan seorang hamba terletak pada kesadaran untuk segera memohon ampun
kepada Allah SWT. Orang yang berbuat dosa kemudian segera beristighfar dan
menyesali perbuatannya akan mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah. Bahkan
dosa sebesar apapun, menurut beliau, dapat dihapus dengan taubat yang
sungguh-sungguh.
Dalam
tausiyahnya, beliau juga mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan dosa kecil.
Menggunjing, berbohong, melakukan ghibah melalui percakapan sehari-hari maupun
media digital seperti pesan WhatsApp, sering kali dianggap sepele. Padahal jika
terus dilakukan tanpa penyesalan, dosa-dosa kecil tersebut dapat berkembang
menjadi dosa besar. Beliau mengutip pesan Rasulullah SAW bahwa dosa kecil yang
dilakukan terus-menerus tidak lagi dianggap kecil, sementara dosa besar akan
diampuni jika diiringi istighfar dan taubat yang tulus.
Abuya
Hasan Nur juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan momentum Muharram sebagai
waktu terbaik untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Tahun baru
Islam, menurutnya, bukan sekadar pergantian kalender, melainkan kesempatan
membuka lembaran baru kehidupan dengan memperbanyak ibadah, memperkuat hubungan
dengan Allah SWT, meningkatkan kualitas shalat, memperbanyak dzikir, puasa
sunnah, serta meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini masih dilakukan.
Kajian
Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini kembali menjadi pengingat bahwa
perjalanan hidup manusia selalu diwarnai kesalahan. Namun selama Allah masih
memberikan umur, kesehatan, dan kesempatan hidup, pintu taubat akan selalu
terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali memperbaiki diri. Dengan semangat
Tahun Baru Islam, jamaah diajak memulai lembaran baru dengan hati yang lebih bersih,
ibadah yang lebih baik, serta tekad kuat untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
“Jangan pernah meremehkan dosa kecil, karena dosa yang
dianggap sepele dan dilakukan terus-menerus bisa menjadi jalan menuju dosa
besar. Sebaliknya, sebesar apa pun dosa, jika diiringi taubat yang tulus, Allah
Maha Mengampuni.” — Abuya Hasan Nur.
