Jangan Terlalu Terikat Dunia
Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. sebagai pemateri. Dalam kesempatan tersebut, beliau melanjutkan pembahasan Kitab Nasa'ihul 'Ibad yang mengupas intisari hikmah dari kitab-kitab samawi, khususnya mengenai pentingnya ilmu, sikap zuhud terhadap dunia, serta membangun hati yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT, Selasa (21/07/2026).
Kajian
rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar
dengan menghadirkan Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. sebagai pemateri. Dalam
kesempatan tersebut, beliau melanjutkan pembahasan Kitab Nasa'ihul 'Ibad
yang mengupas intisari hikmah dari kitab-kitab samawi, khususnya mengenai
pentingnya ilmu, sikap zuhud terhadap dunia, serta membangun hati yang senantiasa
bersyukur kepada Allah SWT, Selasa (21/07/2026).
Mengawali
kajian, Ustadz Khafif menjelaskan bahwa ilmu bukan sekadar menambah
pengetahuan, tetapi menjadi cahaya yang menerangi hati. Menurutnya, hati yang
dipenuhi ilmu akan mampu melihat keindahan ciptaan Allah SWT dan menemukan
hikmah di balik setiap peristiwa kehidupan. Sebaliknya, hati yang gelap akan
sulit merasakan nikmat dan keindahan yang telah Allah bentangkan di dunia.
Beliau
juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menilai sesuatu hanya dari sisi
lahiriahnya. Bahkan, berbagai keadaan yang tampak sederhana atau dianggap
sebagai ujian sekalipun dapat menjadi jalan datangnya keberkahan apabila
disikapi dengan iman dan husnuzan kepada Allah SWT. Keberadaan orang-orang yang
berbuat baik di tengah masyarakat, ujian dalam keluarga, maupun cobaan hidup
dapat menjadi sebab meningkatnya derajat seseorang di sisi Allah.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Khafif menekankan pentingnya bersikap zuhud, yakni
tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Dunia, menurut beliau,
hanyalah sarana untuk beribadah, sehingga seorang muslim tidak boleh terlalu
menggantungkan kebahagiaannya pada urusan materi. Orang yang terlalu mencintai
dunia akan mudah gelisah, sulit bersyukur, bahkan berpotensi melalaikan
kewajiban kepada Allah SWT.
Beliau
menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang dipenuhi rasa syukur.
Apa pun kondisi yang diberikan Allah SWT hendaknya diterima dengan lapang dada
karena seluruh rezeki dan kebutuhan manusia telah diatur sesuai kadar yang
terbaik. Oleh sebab itu, seorang mukmin dianjurkan tetap ceria, optimistis, dan
tidak menjadikan persoalan dunia sebagai sumber kesedihan berkepanjangan.
Lebih
lanjut, Ustadz Khafif menguraikan berbagai dampak negatif apabila seseorang
terus-menerus diliputi kegelisahan karena urusan dunia. Selain dapat mengurangi
kualitas ibadah dan doa, hati yang selalu dipenuhi keluh kesah juga berpengaruh
terhadap kesehatan fisik maupun mental. Menurutnya, rasa cemas dan kekhawatiran
yang berlebihan dapat melemahkan daya tahan tubuh sehingga seseorang lebih
mudah terserang penyakit. Sebaliknya, hati yang tenang, penuh syukur, dan
bertawakal akan membantu menjaga kesehatan serta kekuatan jiwa.
Pada
bagian akhir kajian, beliau mengajak jamaah untuk memperbanyak doa agar
dikaruniai hati yang senantiasa bersyukur dan sabar. Salah satu doa yang
dianjurkan adalah memohon kepada Allah agar dijadikan hamba yang pandai
bersyukur dan memiliki kesabaran dalam menghadapi setiap ketentuan-Nya.
Menurutnya, syukur akan menjaga nikmat yang telah dimiliki sekaligus membuka
pintu datangnya nikmat baru dari Allah SWT.
Ustadz
Khafif juga mengingatkan pentingnya selalu berprasangka baik kepada Allah SWT (husnuzan).
Setiap ujian, musibah, maupun kesulitan yang diberikan Allah sejatinya
merupakan bentuk kasih sayang-Nya agar manusia kembali kepada jalan yang benar.
Beliau mengibaratkan seorang anak yang dilarang atau ditegur oleh orang tuanya
bukan karena dibenci, melainkan karena rasa sayang agar terhindar dari bahaya.
Demikian pula musibah yang Allah berikan sering kali menjadi cara terbaik untuk
menguatkan iman dan memperbaiki kehidupan seorang hamba.
Kajian
Subuh berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan diakhiri doa bersama. Melalui
pembahasan tersebut, jamaah diajak untuk terus menuntut ilmu, memperkuat rasa
syukur, menjaga prasangka baik kepada Allah SWT, serta menjadikan kehidupan
dunia sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat, bukan sebagai tujuan utama
kehidupan.
