Detail Berita

Jarak, Kesungguhan, dan Nilai Amal dalam Beribadah

BOJONEGORO — Kesungguhan menjaga agama dan konsistensi dalam menempuh jalan kebaikan, meski disertai kesulitan, menjadi pesan utama dalam kajian hadis yang digelar pada Sabtu sore di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian ini menegaskan bahwa setiap upaya seorang Muslim untuk mendekat kepada Allah tidak pernah sia-sia dan selalu dicatat sebagai amal kebajikan, Sabtu (22/11/2025).

Kajian Riyadhus Sholihin

BOJONEGORO — Kesungguhan menjaga agama dan konsistensi dalam menempuh jalan kebaikan, meski disertai kesulitan, menjadi pesan utama dalam kajian hadis yang digelar pada Sabtu sore di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian ini menegaskan bahwa setiap upaya seorang Muslim untuk mendekat kepada Allah tidak pernah sia-sia dan selalu dicatat sebagai amal kebajikan, Sabtu (22/11/2025).

Dalam pembahasan hadis tentang Bani Salamah, Ustadz Rifki mengisahkan sekelompok sahabat Nabi Muhammad SAW yang berniat pindah rumah agar lebih dekat dengan masjid. Niat itu didorong oleh keinginan untuk memudahkan mereka menunaikan salat berjamaah. Namun, Rasulullah SAW justru meminta mereka tetap tinggal di tempat semula seraya menegaskan bahwa setiap langkah dan kesulitan menuju masjid akan dicatat sebagai pahala.

Pesan hadis tersebut, menurut Ustadz Rifki, bukanlah anjuran untuk mencari kesulitan secara sengaja, melainkan penegasan bahwa pengorbanan yang lahir dari keterbatasan kondisi memiliki nilai ibadah yang besar. Semakin berat perjuangan yang dijalani dengan niat menjaga iman, semakin besar pula ganjaran yang dijanjikan Allah.

Kajian ini juga menekankan bahwa makna “masjid” dalam hadis tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga secara substansial sebagai tempat menjaga dan menyelamatkan agama. Dalam konteks kekinian, masjid dapat dimaknai sebagai majelis ilmu, pondok pesantren, atau ruang-ruang kebaikan lain yang membantu seseorang mempertahankan iman dan nilai-nilai Islam.

Ustadz Rifki mengingatkan agar hadis tidak dipahami secara tekstual semata. Islam, menurutnya, tidak mengajarkan kesulitan yang dibuat-buat. Efisiensi waktu dan tenaga tetap menjadi pertimbangan penting agar seseorang dapat menjalankan kewajiban lain, seperti bekerja, belajar, dan melayani keluarga serta masyarakat.

Selain itu, jamaah diajak untuk tidak meremehkan amal-amal kecil. Banyak hadis Nabi yang menegaskan bahwa perbuatan sederhana seperti berbagi kebaikan, menyingkirkan gangguan di jalan, hingga membantu sesama sesuai kemampuan dapat menjadi sebab turunnya ridha Allah jika dilakukan dengan ikhlas.

Kajian ditutup dengan ajakan untuk menumbuhkan rasa syukur dan istiqamah dalam beramal. Syukur, menurut pemateri, merupakan kunci utama agar nikmat Allah terus bertambah dan amal kebaikan mengalir tanpa terputus. Dengan sikap tersebut, setiap Muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan beragama secara seimbang, tulus, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.