Jauhi Sifat Takabur
Kajian Rutin Setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan KH. Azizi Falaqi sebagai pemateri. Dalam kajian yang mengutip hikmah dari Sayyid Ali bin Husain Zainal Abidin, beliau mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah, menjauhi sifat sombong, serta memperkuat tawakal kepada Allah SWT sebagai bekal menuju kehidupan akhirat, Ahad (28/07/2026).
Kajian
Rutin Setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar
dengan menghadirkan KH. Azizi Falaqi sebagai pemateri. Dalam kajian yang
mengutip hikmah dari Sayyid Ali bin Husain Zainal Abidin, beliau mengajak
jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah, menjauhi sifat sombong, serta
memperkuat tawakal kepada Allah SWT sebagai bekal menuju kehidupan akhirat,
Ahad (28/07/2026).
Pada
awal kajian, KH. Azizi Falaqi memperkenalkan sosok Sayyid Ali bin Husain, cucu
Rasulullah SAW yang dikenal sebagai seorang ulama besar, ahli fikih, ahli
tafsir, perawi hadis, sekaligus seorang ahli ibadah. Beliau mendapat gelar As-Sajjad,
yaitu orang yang sangat banyak bersujud kepada Allah SWT karena kekhusyukan
ibadahnya.
KH.
Azizi Falaqi kemudian mengisahkan bagaimana setiap kali Sayyid Ali bin Husain
berwudu, wajahnya berubah pucat dan tubuhnya tampak gemetar. Ketika keluarganya
bertanya tentang keadaan tersebut, beliau menjawab bahwa dirinya akan segera
menghadap Allah Yang Maha Agung. Kesadaran akan kebesaran Allah itulah yang
membuat hatinya dipenuhi rasa takut dan hormat sebelum melaksanakan salat.
Beliau
juga menceritakan kisah luar biasa ketika Sayyid Ali sedang bersujud dalam
salat, sementara di sekelilingnya terjadi kebakaran. Meski api berkobar, beliau
tetap melanjutkan salat hingga selesai tanpa menyadari keadaan di sekitarnya.
Setelah ditanya mengapa tidak segera menyelamatkan diri, Sayyid Ali menjelaskan
bahwa ketika bersujud, hatinya sedang dipenuhi renungan tentang dahsyatnya api
neraka sehingga panasnya api dunia seakan tidak lagi terasa. Kisah ini
menunjukkan betapa dalamnya kekhusyukan seorang hamba ketika benar-benar
merasakan kedekatan dengan Allah SWT.
Melalui
kisah tersebut, KH. Azizi Falaqi mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap
kualitas salat masing-masing. Beliau mengingatkan bahwa nilai salat di sisi
Allah tidak hanya ditentukan oleh gerakan lahiriah, tetapi juga sejauh mana
hati benar-benar mengingat dan menghadirkan Allah selama beribadah.
Dalam
kesempatan itu, beliau juga mengingatkan bahaya sifat takabur. Menurutnya,
manusia tidak layak menyombongkan harta, ilmu, jabatan, ataupun kelebihan
lainnya, sebab asal penciptaannya hanyalah dari setetes air mani dan pada
akhirnya akan kembali menjadi tanah. Takabur merupakan sifat warisan iblis yang
harus dijauhi oleh setiap muslim.
Selain
menjauhi kesombongan, KH. Azizi Falaqi menekankan pentingnya memiliki tawakal
yang kuat kepada Allah SWT. Setelah berikhtiar secara maksimal, seorang mukmin
hendaknya menyerahkan seluruh hasilnya kepada Allah. Beliau menjelaskan bahwa
semakin besar tawakal seseorang, semakin besar pula pertolongan dan perhatian
Allah kepadanya. Sebaliknya, jika seseorang hanya mengandalkan usaha tanpa
berserah diri kepada Allah, maka ia akan mudah gelisah ketika menghadapi
kegagalan atau kesulitan hidup.
KH.
Azizi Falaqi juga mengingatkan agar kaum muslimin meyakini adanya hari
kebangkitan dan kehidupan akhirat yang kekal. Menurut beliau, dunia hanyalah
tempat singgah yang sementara, sedangkan akhirat merupakan kehidupan yang
abadi. Oleh karena itu, manusia hendaknya tidak terlalu sibuk mengejar
kesenangan dunia hingga melupakan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Menutup kajian, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mengevaluasi diri, memperbanyak amal saleh, meningkatkan kualitas ibadah, serta lebih mengutamakan kebahagiaan akhirat daripada kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Dengan demikian, setiap langkah kehidupan akan senantiasa bernilai ibadah dan mengantarkan kepada kebahagiaan yang kekal di sisi Allah SWT.
