Detail Berita

Kedudukan Sabar dalam Iman

Bojonegoro — Suasana kuliah subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Ahad pagi berlangsung khidmat. Jamaah memenuhi majelis ilmu yang dibuka dengan doa, puji-pujian kepada Allah SWT, dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pengampu kajian mengajak jamaah mensyukuri nikmat kesempatan berkumpul dalam majelis ilmu yang diyakini membawa keberkahan, Ahad (23/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Suasana kuliah subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Ahad pagi berlangsung khidmat. Jamaah memenuhi majelis ilmu yang dibuka dengan doa, puji-pujian kepada Allah SWT, dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pengampu kajian mengajak jamaah mensyukuri nikmat kesempatan berkumpul dalam majelis ilmu yang diyakini membawa keberkahan, Ahad (23/11/2025).

Dalam pemaparannya, KH. Azizi Falaqi mengulas pesan Sayyidina Ali tentang kedudukan sabar dalam iman, sebagaimana termaktub dalam berbagai kitab klasik. Beliau menjelaskan bahwa kesabaran menempati posisi pokok dalam keimanan, diibaratkan seperti kedudukan kepala bagi tubuh. Tanpa kesabaran, menurutnya, iman seseorang kehilangan arah dan tidak dapat bertahan.

Beliau menekankan bahwa kualitas iman dapat diukur melalui kemampuan seseorang menjaga kesabaran dalam tiga hal: menaati perintah Allah, menghadapi ujian, serta menjauhi kemaksiatan. Para nabi, wali, dan ulama, menurutnya, diberi derajat tinggi karena keteguhan mereka dalam bersabar menghadapi ujian berat.

Kyai Azizi mengutip Surat Al-Ankabut yang menegaskan bahwa manusia tidak dibiarkan begitu saja setelah mengaku beriman tanpa diuji. “Seperti guru yang menguji muridnya, begitu pula Allah menguji kualitas iman kita,” ujarnya.

Beliau kemudian menuturkan kembali kisah Nabi Musa AS dan Bani Israel sebagai contoh nyata beratnya ujian kesabaran. Dalam ceritanya, Beliau menggambarkan bagaimana sebagian pengikut Nabi Musa meminta melihat Allah secara langsung, lalu memohon makanan yang turun dari langit, dan tetap kembali ragu meski telah diberi berbagai tanda kebesaran. “Keraguan yang berulang-ulang itu menuntut kesabaran luar biasa dari Nabi Musa,” katanya.

Selain kesabaran, Kyai Azizi membahas tiga golongan manusia menurut Sayyidina Ali: orang berilmu yang menjadi pembimbing, penuntut ilmu yang konsisten belajar, dan orang yang tidak berada dalam dua golongan itu. Beliau mengajak jamaah minimal berada dalam golongan kedua, mereka yang terus mencari ilmu demi keselamatan hidupnya.

Beliau menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban sepanjang hayat. Pengajian subuh, menurutnya, menjadi ruang penting bagi jamaah untuk menambah pemahaman agama, mendekat pada Allah, sekaligus membentuk karakter mukmin yang matang.

Menjelang akhir pengajian, Beliau mengingatkan jamaah agar menjaga hati untuk senantiasa mencintai para ulama, penuntut ilmu, dan majelis ilmu. “Cinta kepada ilmu dan pelakunya merupakan pintu untuk mendapat curahan ilmu dari Allah,” tuturnya.

Pengajian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberikan keteguhan iman, kesabaran yang kuat, serta kelapangan dalam menerima dan mengamalkan ilmu. Kegiatan kemudian diakhiri dengan salam penutup.