Kekhawatiran Nabi Zakaria atas Masa Depan Umat dan Agama
Bojonegoro - Kekhawatiran seorang nabi terhadap masa depan umat dan keberlanjutan nilai-nilai agama menjadi pokok bahasan dalam kajian tafsir Al-Qur’an Surah Maryam ayat 5–7 yang disampaikan dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian tersebut menyoroti doa Nabi Zakaria yang memohon keturunan bukan semata demi garis darah, melainkan demi menjaga amanah agama, Sabtu (24/1/2026).
Bojonegoro
- Kekhawatiran seorang nabi terhadap masa depan umat dan keberlanjutan
nilai-nilai agama menjadi pokok bahasan dalam kajian tafsir Al-Qur’an Surah
Maryam ayat 5–7 yang disampaikan dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro. Kajian tersebut menyoroti doa Nabi Zakaria yang memohon keturunan
bukan semata demi garis darah, melainkan demi menjaga amanah agama, Sabtu
(24/1/2026).
Dalam tafsir ayat “Wa
inni khiftul mawaliya min wara’i”, dijelaskan bahwa Nabi Zakaria
merasa cemas terhadap mawaliya, yakni para kerabat yang
berpotensi menggantikan kepemimpinan umat setelah wafatnya. Kekhawatiran itu
muncul karena sebagian dari mereka dinilai tidak lagi menjaga agama dengan baik
dan cenderung mencampurkan urusan keagamaan dengan kepentingan duniawi.
“Yang dikhawatirkan Nabi Zakaria
bukan soal politik kekuasaan, tetapi siapa yang akan mengurusi agama setelah
beliau wafat,” ujar KH. A. Maimun Syafi’i. Menurutnya, sejarah Bani Israil
menunjukkan bahwa penyimpangan agama sering terjadi ketika kepemimpinan jatuh
ke tangan orang-orang yang tidak amanah.
Dalam kajian tersebut, Mbah Mun
menyinggung kisah Musa dan Samiri sebagai contoh bagaimana umat dapat
disesatkan ketika pemimpin agama tidak kuat. Peristiwa penyembahan patung anak
sapi emas dijadikan ilustrasi betapa rapuhnya iman umat ketika nilai-nilai
agama tidak dijaga dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, Nabi Zakaria
memanjatkan doa agar dianugerahi seorang anak yang tidak hanya menjadi penerus
biologis, tetapi juga pewaris ilmu, agama, dan kenabian. Doa tersebut terekam
dalam ayat “Fahab
li min ladunka waliyya”, yang menunjukkan harapan akan lahirnya
generasi penjaga risalah.
Doa Nabi Zakaria dikabulkan Allah
dengan kelahiran Nabi Yahya, seorang nabi yang diberi keistimewaan sejak dalam
kandungan. Dalam kajian dijelaskan bahwa Nabi Yahya menjadi satu-satunya
manusia pada masanya yang diberi nama tersebut, sebagai tanda kemuliaan dan
misi khusus yang diembannya.
KH. A. Maimun Syafi’i juga mengulas
silsilah Nabi Zakaria yang terhubung dengan para nabi besar Bani Israil, mulai
dari Nabi Harun, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim. Hal ini menunjukkan bahwa
garis keturunan bukan jaminan kemuliaan, melainkan amanah yang harus dijaga
dengan keimanan dan ketakwaan.
Selain itu, kisah keluarga Imran, termasuk
Siti Maryam, Nabi Isa, dan doa Dewi Hannah, juga disinggung sebagai contoh
bagaimana keturunan saleh lahir dari doa yang tulus dan kepasrahan total kepada
Allah.
Kajian tersebut menekankan bahwa
pesan utama Surah Maryam tidak berhenti pada kisah sejarah, tetapi menjadi
peringatan bagi umat Islam masa kini. “Kekhawatiran Nabi Zakaria adalah cermin
bagi kita semua: siapa yang akan menjaga agama ketika kita sudah tidak ada,”
kata Mbah Mun.
Pengajian ditutup dengan doa agar umat Islam dianugerahi generasi berilmu, berakhlak, dan mampu menjaga agama dengan baik, sebagaimana doa para nabi terdahulu.
