Detail Berita

Kesadaran Amal Sebelum Ramadan

Bojonegoro, Bulan Syaban menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk menata kembali kesadaran spiritual sebelum memasuki Ramadan. Hal itu mengemuka dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, dengan penekanan pada pentingnya rasa syukur, kerendahan hati, serta kesadaran bahwa setiap amal akan mendapat balasan dari Allah, Ahad (25/1/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Bulan Syaban menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk menata kembali kesadaran spiritual sebelum memasuki Ramadan. Hal itu mengemuka dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, dengan penekanan pada pentingnya rasa syukur, kerendahan hati, serta kesadaran bahwa setiap amal akan mendapat balasan dari Allah, Ahad (25/1/2026).

Dalam tausiyahnya, KH. Azizi Falaqi menyampaikan bahwa Syaban merupakan bulan yang dimuliakan Allah dan sangat dicintai Nabi Muhammad SAW. Bulan ini berada di antara dua bulan agung, Rajab dan Ramadan, sehingga menjadi masa persiapan ruhani yang sangat strategis.

“Syaban adalah bulan dilaporkannya amal-amal tahunan manusia kepada Allah. Karena itu, Nabi Muhammad SAW meningkatkan kualitas ibadahnya pada bulan ini sebagai bekal menyambut Ramadan,” ujarnya.

Mengutip keterangan ulama dalam kitab Uyun al-Thalibin karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Syaban disebut sebagai bulan di mana kebaikan dilimpahkan secara luas sebagai bentuk rahmat Allah menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan memperkuat niat ibadah.

Dalam kesempatan tersebut, Kyai Azizi juga mengangkat kisah sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud, yang dikenal sebagai ulama besar dan ahli fikih. Diceritakan bahwa Abdullah bin Mas’ud justru merasa khawatir ketika dirinya dimuliakan dan dikerumuni orang-orang yang ingin mencari keberkahan darinya.

“Beliau takut penghormatan manusia justru menjadi fitnah bagi dirinya di hadapan Allah. Ini teladan penting tentang sikap tawadhu dan kewaspadaan terhadap rasa bangga yang berlebihan,” kata Kyai Azizi.

Kisah tersebut kontras dengan sikap sebagian manusia yang mudah bangga ketika dipuji dan marah ketika dicela. Padahal, menurut Kyai Azizi, manusia sejatinya tidak layak merasa mulia kecuali dengan rahmat Allah dan amal yang ikhlas.

Selain itu, disampaikan pula kisah Ashabul Kahfi sebagai pelajaran tentang kemuliaan yang diperoleh karena kedekatan dengan orang-orang saleh. Bahkan seekor anjing yang setia menemani Ashabul Kahfi, disebut dimuliakan Allah karena kebersamaannya dengan hamba-hamba pilihan-Nya.

“Siapa yang ingin dimuliakan Allah, hendaknya mendekat kepada orang-orang saleh dan memakmurkan majelis ilmu,” ujarnya.

Tausiyah tersebut juga menyoroti hakikat kehidupan manusia yang terus bergerak menuju akhirat, sementara usia di dunia terus berkurang. Pergantian siang dan malam menjadi pengingat bahwa waktu tidak pernah berhenti, dan setiap amal, sekecil apa pun, dicatat dengan rapi oleh Allah.

“Tidak ada satu pun amal, sebesar biji zarah, yang luput dari balasan. Apa yang ditanam manusia, itulah yang akan dipanen,” kata Kyai Azizi.

Menutup kajian, jamaah diajak memanfaatkan sisa usia dengan memperbanyak amal saleh, menjaga keikhlasan, dan menyiapkan diri menyambut Ramadan. Harapannya, keberkahan Bulan Syaban dapat mengantarkan umat Islam pada keridaan Allah.

Pengajian ditutup dengan doa dan pembacaan shalawat, memohon agar jamaah diberi keberkahan ilmu, keselamatan hidup, serta kekuatan iman dalam menjalani kehidupan.