Detail Berita

Kesungguhan Menegakkan Shalat Lahir dan Batin

Bojonegoro, Jamaah Masjid Darussalam kembali memadati saf-saf masjid untuk shalat Shubuh berjamaah dan selanjutnya mengikuti kuliah Shubuh selepasnya yang membahas pendalaman makna salat, tidak hanya sebagai gerakan fisik, tetapi juga sebagai ibadah yang menuntut kebersihan hati dan kesungguhan batin, Jum’at (9/1/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Jamaah Masjid Darussalam kembali memadati saf-saf masjid untuk shalat Shubuh berjamaah dan selanjutnya mengikuti kuliah Shubuh selepasnya yang membahas pendalaman makna salat, tidak hanya sebagai gerakan fisik, tetapi juga sebagai ibadah yang menuntut kebersihan hati dan kesungguhan batin, Jum’at (9/1/2026).

Kajian dibuka dengan doa dan puji syukur atas nikmat kesehatan serta kesempatan menunaikan salat berjamaah. Uastadz Rifki kemudian mengajak jamaah menelaah kembali ajaran tasawuf dalam kitab Al-Hikam, karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, yang menekankan bahwa kualitas ibadah lebih utama daripada sekadar rutinitas pelaksanaannya.

Menurutnya, keinginan terbesar seorang muslim semestinya bukan hanya “melakukan salat”, melainkan “menegakkan salat” secara sempurna. Istilah iqamatus shalah, jelasnya, mengandung makna menghadirkan kesungguhan, totalitas, dan penyempurnaan, baik dari sisi syarat, rukun, maupun kekhusyukan hati.

“Salat tidak cukup sekadar sah secara lahiriah. Ia harus ditegakkan dengan hati yang hadir,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ustadz Rifki menambahkan, kesempurnaan salat mencakup dua sisi: lahir dan batin. Secara lahir, jamaah diminta memperhatikan syarat-syarat seperti kesucian badan, pakaian, dan tempat salat. Namun secara batin, kebersihan hati dari dosa, kesombongan, dan kelalaian justru menjadi hal yang lebih utama.

Mengutip pandangan ulama klasik, Ustadz Rifki menjelaskan bahwa wudhu bukan sekadar membasuh anggota tubuh, melainkan momentum memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan melalui mata, lisan, maupun tangan. Dengan demikian, bersuci dimaknai sebagai pembersihan diri secara menyeluruh.

“Air membersihkan jasad, taubat membersihkan hati,” katanya.

Ustadz Rifki juga mengajak jamaah memaknai azan sebagai panggilan agung layaknya panggilan di hari akhir. Karena itu, respon terbaik seorang muslim adalah segera meninggalkan kesibukan duniawi dan menghadap Allah dengan penuh kesadaran bahwa Dia Mahabesar di atas segala urusan.

Selain itu, Ustadz Rifki menyinggung pentingnya menutup aurat sebagai bentuk adab lahiriah. Namun, ia mengingatkan bahwa aurat batin, berupa dosa dan aib diri, juga harus ditutup dengan taubat, rasa malu, dan permohonan ampun kepada Allah.

Dalam penjelasannya tentang kiblat, ia mengibaratkan Ka’bah sebagai arah fisik, sementara hati harus diarahkan sepenuhnya kepada Allah. “Menghadap kiblat berarti juga berpaling dari selain-Nya. Dunia ditinggalkan sejenak agar hati benar-benar fokus kepada Tuhan,” tuturnya.

Kajian Subuh tersebut menjadi bagian dari pembinaan rohani rutin Masjid Darussalam, terlebih di bulan Rajab yang dikenal sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah. Pengurus berharap, pemahaman tentang makna salat ini dapat mendorong jamaah tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga lebih khusyuk dan sadar dalam setiap gerakan.

Pengajian ditutup dengan doa bersama dan shalawat, sebelum jamaah kembali beraktivitas dengan membawa pesan utama: menegakkan salat dengan kesungguhan lahir sekaligus kebersihan batin.