Detail Berita

Ketawadzuan Nabi Isa Alaihis Salam

Kajian rutin setelah Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Sabtu pagi berlangsung khidmat dengan menghadirkan pengasuh dan ulama kharismatik, KH Ahmad Maimun Syafi'i, yang menyampaikan tafsir dan hikmah dari kisah Nabi Isa dan Sayyidah Maryam dalam Surah Maryam, Sabtu (27/06/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Sabtu pagi berlangsung khidmat dengan menghadirkan pengasuh dan ulama kharismatik, KH Ahmad Maimun Syafi'i, yang menyampaikan tafsir dan hikmah dari kisah Nabi Isa dan Sayyidah Maryam dalam Surah Maryam, Sabtu (27/06/2026).

Dalam kajiannya, KH Ahmad Maimun Syafi’I menjelaskan bahwa salah satu pelajaran besar dari kisah Nabi Isa AS adalah pentingnya menanamkan sifat ubudiyah, yakni kesadaran penuh bahwa manusia hanyalah hamba Allah. Hal itu dicontohkan oleh Nabi Isa yang sejak masih bayi telah menyatakan, “Inni Abdullah” — sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa hanya Allah yang memiliki sifat ketuhanan, sementara manusia wajib tunduk dan beribadah kepada-Nya.

Beliau juga menekankan bahwa Nabi Isa AS diperintahkan Allah untuk senantiasa menjaga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta melalui shalat dan zakat, sebagaimana termaktub dalam firman Allah “Wa aushoni bish sholati waz zakati ma dumtu hayya” yang berarti Allah mewasiatkan Nabi Isa untuk menjaga ibadah selama hidupnya. Pesan ini, menurut beliau, menunjukkan bahwa kemuliaan seorang hamba terletak pada ketaatan, bukan pada kedudukan duniawi.

Selain itu, KH Ahmad Maimun mengingatkan jamaah tentang pentingnya berbakti kepada orang tua, meneladani akhlak Nabi Isa yang dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai sosok yang sangat baik kepada ibundanya, Sayyidah Maryam. Sikap tersebut sekaligus menjadi bukti kesucian Sayyidah Maryam dari berbagai tuduhan yang pernah dilontarkan kaum yang melampaui batas.

Di akhir kajian, beliau mengajak jamaah untuk menumbuhkan sifat tawadhu (rendah hati) dan menjauhi sifat sombong, keras hati, serta sikap menentang kebenaran. Menurut beliau, kemuliaan para nabi justru terlihat dari kerendahan hati dan kedekatan mereka kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan Nabi Isa AS yang menjalani hidup sederhana dan penuh ketundukan kepada Allah.

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin kuat pula rasa tawadhu, penghambaan diri kepada Allah, serta komitmen menjaga ibadah dalam kehidupan sehari-hari.


Penutup singkat untuk media sosial: “Belajar dari Nabi Isa AS, kemuliaan sejati bukan terletak pada pujian manusia, melainkan pada kerendahan hati, ketaatan kepada Allah, dan kesungguhan menjaga ibadah.”