Keutamaan Al-Fatihah dan Dua Ayat Terakhir Al-Baqarah
Bojonegoro, Jamaah Masjid Darussalam kembali mengikuti kajian rutin seusai salat Subuh dengan suasana khidmat. Dalam kesempatan itu, Ustadz Kholil mengajak jamaah memperbanyak syukur atas nikmat hidup dan kesehatan, sekaligus menegaskan bahwa tujuan utama kehidupan adalah beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT, Ahad (11/1/2026).
Bojonegoro, Jamaah Masjid Darussalam kembali
mengikuti kajian rutin seusai salat Subuh dengan suasana khidmat. Dalam kesempatan
itu, Ustadz Kholil mengajak jamaah memperbanyak syukur atas nikmat hidup dan
kesehatan, sekaligus menegaskan bahwa tujuan utama kehidupan adalah beribadah
dan mengabdi kepada Allah SWT, Ahad (11/1/2026).
Kajian dibuka dengan pembacaan
shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan ajakan membaca bersama tiga ayat
terakhir Surah Al-Baqarah. Ustadz Kholil kemudian menyoroti keutamaan dua ayat
penutup surah tersebut yang, menurut sejumlah riwayat hadis, memiliki
keistimewaan tersendiri.
“Barang siapa membaca dua ayat
terakhir Surah Al-Baqarah pada malam hari, maka Allah akan mencukupkannya,”
ujarnya mengutip sabda Nabi.
Ia menjelaskan, sejumlah ulama
menafsirkan makna “dicukupkan” sebagai perlindungan dari gangguan setan,
kemudahan bangun untuk salat malam, hingga penjagaan dari berbagai penyakit.
Karena itu, jamaah dianjurkan membiasakan membacanya sebelum tidur sebagai
bagian dari dzikir harian.
Menurutnya, pembiasaan membaca
ayat-ayat tersebut juga memberi dampak praktis. Banyak orang yang tanpa sengaja
menjadi hafal karena rutin dibaca saat tahlil, ziarah, atau doa bersama. “Ini
berkah kebiasaan baik. Tanpa merasa menghafal, akhirnya hafal sendiri,”
katanya.
Selain dua ayat terakhir
Al-Baqarah, Ustadz Kholil mengingatkan keutamaan Surah Al-Fatihah. Ia menyebut
Al-Fatihah dan penutup Al-Baqarah sebagai “dua cahaya” yang dianugerahkan
khusus kepada Nabi Muhammad SAW. Setiap huruf yang dibaca, lanjutnya, disertai
janji kebaikan dari Allah.
Ia menekankan pentingnya memahami
makna doa dalam ayat-ayat tersebut. Misalnya, kalimat ihdinas
shiratal mustaqim dalam Al-Fatihah dipahami sebagai permohonan agar
senantiasa dibimbing ke jalan yang lurus. Sementara dalam dua ayat terakhir
Al-Baqarah, terdapat doa-doa pengampunan seperti wa’fu ‘anna,
waghfirlana, warhamna.
“Jangan sekadar dibaca. Hayati
artinya. Ketika memohon ampun, benar-benar merasa banyak dosa. Ketika meminta
rahmat, yakin Allah menyayangi kita,” tuturnya.
Di bagian akhir, ia mengajak jamaah
menjaga konsistensi dzikir dan doa sebagai bekal kehidupan sehari-hari.
Harapannya, amalan sederhana itu menjadi sebab turunnya ampunan, rahmat, serta
keteguhan iman hingga akhir hayat.
Pengurus masjid menilai kajian tematik semacam ini menjadi bagian dari pembinaan spiritual jamaah, sekaligus memperkuat kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin dan penuh pemahaman. Pengajian ditutup dengan doa bersama dan salam, sebelum jamaah kembali menjalani aktivitas pagi.
