Keutamaan Shalat Berjamaah
Bojonegoro, berjamaah dinilai memiliki keutamaan yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga membangun ikatan batin dan kepedulian sosial antarsesama muslim. Hal itu disampaikan dalam kajian Subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, dengan merujuk pada berbagai hadis Nabi Muhammad SAW dan kisah para sahabat, Senin (19/1/2026).
Bojonegoro,
berjamaah dinilai memiliki keutamaan yang tidak hanya bersifat individual,
tetapi juga membangun ikatan batin dan kepedulian sosial antarsesama muslim.
Hal itu disampaikan dalam kajian Subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro, dengan merujuk pada berbagai hadis Nabi Muhammad SAW dan kisah para
sahabat, Senin (19/1/2026).
KH. Abdul Aziz mengawali kajian
dengan mengajak jamaah mensyukuri nikmat iman dan Islam yang memungkinkan umat
berkumpul dalam shalat Subuh berjamaah. Beliau berharap ibadah yang dilakukan
diterima oleh Allah SWT dan membawa keberkahan bagi jamaah.
Dalam pemaparannya, Kyai Aziz mencontohkan
kepedulian para sahabat Nabi terhadap shalat berjamaah. Salah satunya kisah
sahabat yang rumahnya paling jauh dari masjid, namun tidak pernah sekalipun
meninggalkan shalat berjamaah. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab,
yang menggambarkan betapa kuatnya komitmen para sahabat terhadap jamaah meski
harus menempuh jarak jauh.
Bahkan, kata Kyai Aziz, sebagian
sahabat memilih datang lebih awal dan menunggu waktu shalat di serambi masjid
agar tidak tertinggal jamaah. Sikap ini, menurut Rasulullah SAW, menjadi
kebanggaan Allah SWT yang ditunjukkan kepada para malaikat-Nya.
Kajian juga menekankan pentingnya
meluruskan dan merapatkan saf dalam shalat berjamaah. Rasulullah SAW,
sebagaimana diriwayatkan dalam hadis, tidak memulai takbir sebelum barisan shalat
benar-benar rapi. Hal ini dipandang bukan sekadar persoalan teknis, melainkan
simbol kesatuan hati dan persaudaraan umat.
“Shalat berjamaah membangun ikatan
batin yang kuat. Ketika satu jamaah tidak hadir karena sakit atau wafat, jamaah
lain akan merasakan kehilangan,” ujar Kyai Aziz.
Selain itu, dijelaskan pula
keutamaan bacaan Al-Fatihah dalam shalat berjamaah. Kyai Aziz mengutip kisah
sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang menggunakan bacaan Al-Fatihah sebagai doa
penyembuhan, yang kemudian dibenarkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan
bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan istimewa sebagai Ummul Qur’an dan doa yang
penuh keberkahan.
Keutamaan shalat berjamaah juga
ditegaskan melalui hadis tentang pahala 27 derajat dibandingkan shalat
sendirian. Menurut Kyai Aziz, pahala tersebut bukan hanya bernilai angka,
tetapi juga menjadi sarana pengampunan dosa secara kolektif, ibarat “cairan”
yang membersihkan dosa-dosa yang telah mengeras dalam hati manusia.
Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali,
Kyai Aziz menyebut bahwa orang yang keluar dari masjid setelah shalat berjamaah
kerap tampak berseri-seri wajahnya. Hal itu dipandang sebagai tanda ketenangan
batin dan dosa yang telah diampuni oleh Allah SWT.
Dalam kajian tersebut juga
disampaikan kisah kaum Bani Salamah yang rumahnya jauh dari Masjid Nabawi.
Mereka sempat berniat pindah agar lebih dekat dengan masjid, namun Rasulullah
SAW justru melarangnya. Menurut Rasulullah, setiap langkah kaki menuju masjid
dicatat sebagai amal kebajikan, mengangkat derajat, dan menghapus dosa.
Kajian ditutup dengan ajakan agar umat Islam tidak memandang shalat berjamaah sebatas amalan sunah semata, melainkan sebagai ibadah yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang sangat tinggi. Jamaah diharapkan senantiasa menjaga konsistensi shalat berjamaah sebagai jalan meraih rida Allah SWT.
