Keutamaan Zikir Berjamaah
Bojonegoro, Zikir yang dilakukan secara berjamaah memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam dan menjadi salah satu amalan yang mendapat perhatian khusus dari para malaikat. Hal tersebut disampaikan dalam kajian keislaman yang digelar di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, dengan merujuk pada hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW, Ahad (18/1/2026).
Bojonegoro,
Zikir yang dilakukan secara berjamaah memiliki keutamaan besar dalam ajaran
Islam dan menjadi salah satu amalan yang mendapat perhatian khusus dari para
malaikat. Hal tersebut disampaikan dalam kajian keislaman yang digelar di
Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, dengan merujuk pada hadis-hadis sahih yang
diriwayatkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW, Ahad (18/1/2026).
Dalam kajian tersebut, Kyai
Kholidin mengawali dengan ajakan untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah
SWT serta mempererat kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui shalawat. Jamaah
juga diajak menghadiahkan doa dan bacaan Al-Fatihah untuk para pendahulu dan
orang tua yang telah wafat, sebagai bentuk bakti dan pengharapan akan rahmat
Allah.
Pembahasan utama kajian menyoroti
keutamaan zikir, khususnya zikir yang dilakukan secara bersama-sama. Kyai
Kholidin mengutip riwayat dari Abdullah bin Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda
agar umat Islam mendatangi “taman-taman surga” ketika melewatinya. Ketika para
sahabat bertanya apa yang dimaksud taman-taman surga tersebut, Rasulullah
menjawab bahwa yang dimaksud adalah majelis-majelis zikir.
Dalam hadis tersebut dijelaskan, Allah
SWT memiliki para malaikat yang berkeliling mencari majelis zikir. Ketika
mereka menemukan sekelompok orang yang tengah berzikir, para malaikat akan
mengelilingi majelis itu dan turut menaunginya hingga majelis selesai.
Riwayat serupa juga disampaikan dari
Muawiyah RA, yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah mendapati para
sahabat duduk berkumpul. Ketika ditanya tujuan mereka berkumpul, para sahabat
menjawab bahwa mereka sedang berzikir dan memuji Allah atas nikmat iman dan
Islam. Rasulullah kemudian menegaskan bahwa malaikat Jibril telah datang
membawa kabar bahwa Allah SWT membanggakan majelis zikir tersebut di hadapan
para malaikat.
Selain itu, kajian juga mengutip
hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah RA, yang
menyebutkan bahwa suatu kaum yang duduk berzikir kepada Allah akan dikelilingi
malaikat, diliputi ketenangan, dicurahi rahmat, dan disebut namanya oleh Allah
di hadapan makhluk-Nya.
Kyai Kholidin menekankan bahwa
zikir tidak hanya terbatas pada ibadah individu, tetapi juga dianjurkan
dilakukan secara kolektif. Menurutnya, berkumpul dalam majelis zikir merupakan
amalan sunah yang memiliki nilai spiritual tinggi dan tidak boleh diremehkan.
Kajian tersebut juga membahas
bentuk zikir yang utama, yakni zikir dengan lisan yang disertai kehadiran hati.
Zikir lisan seperti tasbih, tahmid, dan tahlil dinilai akan lebih sempurna
apabila diiringi kesadaran hati yang senantiasa mengingat Allah. Zikir hati
tanpa lisan, maupun lisan tanpa hati, dianggap belum mencapai tingkat keutamaan
tertinggi.
Kyai Kholidin mengingatkan jamaah
agar tidak meninggalkan zikir lisan dengan alasan khawatir riya. Mengutip
pandangan para ulama, dijelaskan bahwa meninggalkan amal kebaikan karena takut
riya justru dapat menjadi bentuk riya terselubung. Oleh karena itu, zikir
dianjurkan tetap dilakukan dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah.
Kajian ditutup dengan doa dan shalawat, disertai harapan agar jamaah senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga zikir dalam kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi maupun berjamaah, sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih ketenangan batin.
