Larangan Berlebihan dalam Beribadah
Bojonegoro — Kajian sore yang digelar di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro menekankan pentingnya menjalankan ibadah secara seimbang, tidak berlebihan, dan tetap memperhatikan hak diri serta keluarga. Kajian tersebut mengulas sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW tentang moderasi dalam beribadah, Sabtu (06/12/2025).
Bojonegoro — Kajian sore yang digelar di
Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro menekankan pentingnya menjalankan ibadah
secara seimbang, tidak berlebihan, dan tetap memperhatikan hak diri serta
keluarga. Kajian tersebut mengulas sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW tentang
moderasi dalam beribadah, Sabtu (06/12/2025).
Ustadz Rifki menjelaskan kisah
Sayyidah Zainab binti Jahsy, istri Nabi Muhammad SAW, yang dikenal rajin
beribadah hingga pernah memasang tali di masjid sebagai penopang ketika merasa
lelah saat salat malam. Nabi Muhammad SAW kemudian memerintahkan agar tali
tersebut dilepas, seraya menegaskan bahwa ibadah seharusnya dilakukan sesuai
kemampuan dan dalam kondisi terbaik, bukan dengan memaksakan diri.
“Shalat dan ibadah harus
dilaksanakan dalam keadaan sadar, khusyuk, dan penuh kesungguhan. Jika
mengantuk, sebaiknya beristirahat terlebih dahulu agar tidak kehilangan makna
ibadah,” ujar Ustadz Rifki saat mengutip hadis riwayat Imam An-Nawawi.
Kajian juga menyoroti dimensi
sosial dan kemanusiaan dalam beragama. Ibadah, menurut Ustadz Rifki, tidak
hanya berkaitan dengan hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga mencakup
pemenuhan hak keluarga dan sesama. Kisah persahabatan Salman Al-Farisi dan Abu
Darda’ menjadi contoh bahwa keseimbangan antara ibadah, keluarga, dan kebutuhan
diri adalah ajaran utama Islam.
Nabi Muhammad SAW, lanjutnya,
menegur para sahabat yang beribadah secara ekstrem hingga mengabaikan keluarga
dan kesehatan. “Orang saleh adalah mereka yang mampu menunaikan hak Allah
sekaligus hak manusia,” tegasnya.
Selain itu, kajian mengingatkan
bahwa melayani keluarga, menjaga keharmonisan rumah tangga, dan memperhatikan
pasangan juga termasuk bagian dari ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Pemahaman fiqih yang utuh diperlukan agar semangat beribadah tidak justru
menimbulkan ketimpangan dalam kehidupan sosial.
Kajian sore tersebut ditutup dengan ajakan untuk meneladani Rasulullah SAW sebagai figur yang moderat, bijaksana, dan seimbang dalam beribadah, sekaligus menjadikan masjid sebagai ruang pembelajaran yang ramah dan membumi bagi seluruh jamaah.
