Makna Kurban sebagai Empati Sosial
Khutbah Sholat Iduladha di Masjid Agung Darussalam disampaikan oleh Dr. Nurul Huda dengan menekankan bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol ketakwaan, solidaritas sosial, dan penghancuran ego manusia, Rabu (27/5/2026).
Khutbah
Sholat Iduladha di Masjid Agung Darussalam disampaikan oleh Dr. Nurul Huda dengan
menekankan bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol
ketakwaan, solidaritas sosial, dan penghancuran ego manusia, Rabu (27/5/2026).
Dalam
khutbahnya, Dr. Nurul Huda menjelaskan bahwa Iduladha mengajak umat Islam
meneladani perjuangan Nabi Ibrahim AS sebagai bapak tauhid dan simbol pemersatu
agama samawi. Ia menegaskan bahwa praktik kurban dalam Islam bukan bentuk
“suap” kepada Allah ataupun penolak bala, tetapi wujud rasa syukur dan
kepedulian terhadap kaum fakir miskin.
Ia
juga mengkritik fenomena masyarakat yang menjadikan kurban hanya sebagai ajang
pencitraan dan konten media sosial. Menurutnya, hakikat kurban adalah membangun
empati sosial serta mengikis kesombongan diri.
Dalam
khutbah tersebut, ia mengutip teladan Nabi Muhammad SAW yang menjadikan ibadah
kurban sebagai bentuk kepedulian terhadap umat, termasuk bagi mereka yang belum
mampu berkurban. Selain itu, ia mencontohkan kepemimpinan Umar bin Khattab dan
Umar bin Abdul Aziz yang sangat peduli terhadap kondisi rakyat miskin dan rela
hidup sederhana demi merasakan penderitaan masyarakat.
Dr.
Nurul Huda juga menyoroti pentingnya kurban dalam memperkuat solidaritas sosial
dan mengurangi kecemburuan sosial di tengah masyarakat modern. Ia mengingatkan
pesan para ulama sufi agar manusia lebih dahulu “menyembelih hawa nafsu”
sebelum menyembelih hewan kurban.
Menurutnya, kemuliaan kurban tidak diukur dari besar kecilnya hewan yang disembelih, tetapi dari luasnya kasih sayang kepada sesama manusia. Ia pun mengajak jamaah untuk merealisasikan nilai takwa dalam kehidupan sehari-hari melalui kemurnian tauhid, ketaatan ibadah, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
