Detail Berita

Pentingnya Sanad Keilmuan dalam Belajar Ilmu Agama

Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan penuh khidmat. Dalam kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Kyai Kholidin dengan membahas pentingnya sanad keilmuan dalam tradisi Islam, khususnya dalam mempelajari hadis dan kitab-kitab ulama salaf, Selasa (2/6/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan penuh khidmat. Dalam kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Kyai Kholidin dengan membahas pentingnya sanad keilmuan dalam tradisi Islam, khususnya dalam mempelajari hadis dan kitab-kitab ulama salaf, Selasa (2/6/2026).

Kajian diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, para ulama, guru-guru pesantren, hingga para tokoh ulama Nusantara. Dalam penyampaiannya, Kyai Kholidin menjelaskan isi kitab karya Imam Nawawi yang membahas amalan zikir harian dan doa-doa yang diamalkan sepanjang hari dan malam.

Beliau menerangkan bahwa kitab-kitab seperti Amalul Yaum wal Lailah karya Imam An-Nasa’i menjadi rujukan penting dalam tradisi keilmuan Islam karena memuat berbagai doa, zikir, dan amalan yang bersumber dari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Kyai Kholidin juga menekankan pentingnya memahami jalur transmisi ilmu atau sanad agar ilmu agama yang dipelajari memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam kajian tersebut, Kyai Kholidin mengisahkan bagaimana para ulama terdahulu sangat menjaga sanad keilmuan. Ia menyebut para ulama tidak sembarangan mengambil pendapat tanpa guru dan tanpa rujukan yang jelas. Menurutnya, tradisi sanad menjadi pembeda utama antara proses belajar para ulama salaf dengan fenomena sebagian orang yang belajar agama secara instan melalui internet tanpa pendampingan guru.

“Ulama-ulama terdahulu ketika mengambil pendapat selalu menyebutkan sanad dan guru-gurunya. Tidak asal mengambil dari sumber yang tidak jelas,” terang beliau di hadapan jamaah.

Selain membahas sanad, Kyai Kholidin juga mengulas dasar-dasar ilmu hadis, mulai dari pengertian hadis shahih, hasan, hingga dhaif. Ia menjelaskan bahwa penilaian terhadap kualitas hadis dilakukan berdasarkan penelitian terhadap para perawi hadis dan kesinambungan sanadnya.

Beliau menegaskan bahwa ilmu hadis merupakan disiplin ilmu yang sangat mendalam dan tidak bisa dipahami secara sembarangan. Karena itu, masyarakat diimbau untuk berhati-hati dalam menyampaikan hukum agama tanpa dasar keilmuan yang memadai.

Di akhir kajian, Kyai Kholidin mengajak jamaah untuk memperbanyak istighfar dan zikir sebagai amalan harian. Ia berharap seluruh jamaah senantiasa mendapatkan ampunan Allah SWT dan wafat dalam keadaan husnul khatimah. Kajian ditutup dengan doa bersama dan bacaan “Rabbana zidna ‘ilma” yang diikuti seluruh jamaah.