Detail Berita

Makna Ridha dalam Kitab Al-Hikam

Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali mengikuti kajian Subuh. Dalam kesempatan itu, Ustadz Rifki melanjutkan pembahasan kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dengan fokus materi mengenai makna ridha dalam kehidupan seorang mukmin, Jum’at (28/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali mengikuti kajian Subuh. Dalam kesempatan itu, Ustadz Rifki melanjutkan pembahasan kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dengan fokus materi mengenai makna ridha dalam kehidupan seorang mukmin, Jum’at (28/11/2025).

Dalam kajiannya, Ustadz Rifki memulai uraian dengan penegasan bahwa ridha memiliki dua sisi: ridha terhadap qadha (keputusan Allah) dan ridha terhadap maqdi ‘anhu (perkara yang menjadi isi keputusan tersebut).

Menurutnya, ridha terhadap qadha bersifat wajib karena setiap ketetapan, baik yang tampak baik maupun tidak menyenangkan bersumber dari Allah SWT. “Apa pun keputusan Allah, kita wajib menerimanya dengan lapang,” ujarnya.

Namun, ridha terhadap maqdi ‘anhu memiliki batas. Hal-hal yang berkaitan dengan kemaksiatan, kekufuran, atau perbuatan buruk tidak boleh diridhai. Ia mencontohkan kisah Abu Jahal dan Abu Lahab yang wafat dalam kekufuran. “Ridha terhadap kemaksiatan adalah maksiat. Ridha terhadap kekufuran adalah kekufuran,” tegasnya.

Dalam uraian berikutnya, Ustadz Rifki menjelaskan perbedaan watak antara orang yang lalai (ghafil) dan orang arif. Orang lalai, katanya, menjalani hari dengan memikirkan urusan dunia semata: rencana, pekerjaan, dan keuntungan pribadi.

“Orang lalai tidak melihat campur tangan Allah dalam setiap kejadian. Akhirnya yang ia pandang hanyalah dirinya sendiri,” ujarnya.

Sebaliknya, orang arif selalu mengaitkan setiap peristiwa dengan kehendak Allah. Meski tetap berusaha dalam batas syariat, batin mereka senantiasa terarah pada kesadaran bahwa segala hasil berasal dari Tuhan.

“Orang arif merasakan keagungan Allah, bukan sekadar mengetahuinya. Ini yang membuat hatinya lapang dan damai,” katanya.

Selanjutnya, Ustadz Rifki menyinggung anjuran wirid-wirid pagi yang diwariskan Nabi Muhammad SAW sebagai sarana menata hati. Bacaan seperti subhanallah wa bihamdih, syahadat tauhid, dan ikrar ridha kepada Allah, Islam, dan Rasulullah disebut dapat memperkuat kesadaran spiritual bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Ilahi.

“Wirid pagi itu cara untuk menata hati. Dengan begitu, apa pun yang terjadi sepanjang hari akan diterima dengan ketenangan,” katanya.

Kajian kemudian menyinggung keteladanan para tokoh terdahulu, seperti Ashabul Kahfi dan Sayyidina Umar bin Abdul Aziz. Disebutkan bahwa orang-orang yang menjaga hati dan imannya akan mendapatkan tambahan petunjuk dari Allah.

Sayyidina Umar bin Abdul Aziz, misalnya, disebut pernah mengatakan bahwa kebahagiaannya di pagi hari hanya muncul dari apa yang telah ditetapkan Allah untuknya.

“Inilah puncak ridha. Apa pun keputusannya, baik menguntungkan maupun merugikan, diterima dengan syukur,” ucapnya.

Di akhir kajian, Ustadz Rifki menyampaikan dua cara utama untuk melatih sikap ridha: Pertama, memperbanyak zikir, agar hati mampu menerima keputusan Allah dengan lapang. Kedua, mengurangi hawa nafsu, terutama keinginan-keinginan pribadi yang berlebihan, sehingga hati lebih mudah tunduk pada ketentuan-Nya.

Kajian ditutup dengan doa dan harapan agar jamaah senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga hati, memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada Allah SWT.