Manfaatkan Bulan Rajab dengan Memperbanyak Ibadah
Bojonegoro, Jamaah salat Subuh Masjid Darussalam Bojonegoro kembali mengikuti pengajian rutin yang digelar seusai shalat Shubuh berjama’ah. Dalam suasana khidmat, Ustadz Hasan Nur mengajak jamaah mensyukuri nikmat kesehatan dan umur panjang, sekaligus memanfaatkan datangnya bulan Rajab sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah, Kamis (8/1/2026).
Bojonegoro, Jamaah salat Subuh Masjid
Darussalam Bojonegoro kembali mengikuti pengajian rutin yang digelar seusai shalat
Shubuh berjama’ah. Dalam suasana khidmat, Ustadz Hasan Nur mengajak jamaah
mensyukuri nikmat kesehatan dan umur panjang, sekaligus memanfaatkan datangnya
bulan Rajab sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah, Kamis (8/1/2026).
“Alhamdulillah kita masih diberi
kesempatan salat Subuh berjamaah. Ini nikmat yang tidak semua orang rasakan,”
ujarnya membuka tausiyah.
Ustadz Hasan mengutip perintah
Al-Qur’an agar umat bersegera memohon ampunan dan mengejar surga seluas langit
dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. Menurutnya, sikap menunda
kebaikan hanya akan membuat seseorang kehilangan kesempatan meraih pahala.
“Jangan ditunda-tunda. Istighfar,
taubat, dan amal baik itu harus disegerakan,” katanya.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Hasan Nur
menekankan pentingnya memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia
menyampaikan riwayat bahwa setiap shalawat akan dibalas dengan doa para
malaikat, bahkan disebutkan puluhan ribu malaikat turut mendoakan orang yang
bershalawat.
“Itu tanda kemuliaan. Orang yang
gemar bershalawat digolongkan sebagai ahli surga,” tuturnya.
Tema utama kajian pagi itu adalah
keutamaan bulan Rajab. Bulan ketujuh dalam kalender hijriah tersebut disebut
sebagai salah satu bulan istimewa yang menjadi pintu persiapan menuju Ramadan.
Pada bulan ini, pahala ibadah diyakini berlipat ganda dibanding hari-hari
biasa.
Ustadz Hasan Nur menggambarkan
Rajab sebagai masa “latihan spiritual”. Jamaah dianjurkan mulai membiasakan
puasa sunnah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta menjauhi
maksiat. Kebiasaan itu diharapkan memudahkan saat memasuki Ramadan.
“Kalau dari sekarang dilatih, nanti
puasa Ramadan terasa ringan. Tapi kalau tidak dibiasakan, akan terasa berat,”
ujarnya.
Menurutnya, ibadah bukan semata
soal kuantitas, melainkan konsistensi. Sedikit tetapi rutin dinilai lebih baik
ketimbang banyak namun sesekali. Karena itu, ia mengingatkan jamaah agar
memulai dari hal sederhana, seperti puasa beberapa hari, membaca Al-Qur’an
setiap hari, atau memperbanyak istighfar.
Selain memperbanyak amal, jamaah
juga diajak menahan diri dari perbuatan yang merugikan. “Bulan mulia bukan
hanya menambah ibadah, tetapi juga meninggalkan maksiat,” katanya.
Kajian ditutup dengan doa bersama agar jamaah diberi kesehatan, umur panjang, serta kesempatan berjumpa Ramadan. Satu per satu jamaah kemudian meninggalkan masjid, membawa pesan yang sama: menjadikan Rajab sebagai awal perubahan menuju kehidupan yang lebih taat dan disiplin beribadah.
