Detail Berita

Manusia Tak Pernah Luput dari Kematian, Masalah, dan Ujian

BOJONEGORO — Ustadz Khusnul Khotib mengingatkan bahwa dalam kehidupan, manusia tidak pernah bisa menghindar dari tiga perkara besar: kematian, masalah hidup, dan ujian berupa celaan atau penilaian dari sesama. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Sabtu, (3/1/2026).

Kuliah Shubuh

BOJONEGORO — Ustadz Khusnul Khotib mengingatkan bahwa dalam kehidupan, manusia tidak pernah bisa menghindar dari tiga perkara besar: kematian, masalah hidup, dan ujian berupa celaan atau penilaian dari sesama. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Sabtu, (3/1/2026).

Di hadapan jamaah, ia menegaskan bahwa kematian adalah kepastian mutlak yang berlaku bagi semua manusia tanpa kecuali. Tidak peduli status sosial, jabatan, kekayaan, atau kekuasaan, setiap orang pasti akan mengalaminya.

“Manusia paling kuat, paling kaya, maupun paling berkuasa tetap tidak mampu menghindari kematian,” ujarnya.

Ia mencontohkan tokoh-tokoh besar dunia yang memiliki kekuasaan dan perlindungan maksimal, namun tetap tidak luput dari ajal. Hal itu, menurutnya, menjadi pengingat bahwa manusia perlu menyiapkan bekal kehidupan akhirat sejak dini.

Selain kematian, Ustadz Khotib menyebut masalah hidup sebagai perkara kedua yang tidak dapat dihindari manusia. Setiap orang, kata dia, pasti menghadapi persoalan, meski bentuk dan tingkatannya berbeda-beda. Pejabat tinggi, pemimpin negara, orang kaya, hingga rakyat kecil sama-sama bergelut dengan masalah masing-masing.

“Tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Yang berbeda hanyalah jenis dan kemampuan dalam menghadapinya,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa sering kali seseorang terlihat hidup nyaman dan bebas masalah di mata orang lain. Namun, di balik itu, ia tetap memikul beban pikiran dan tanggung jawab yang tidak terlihat. Fenomena tersebut, menurutnya, kerap melahirkan sikap saling membandingkan hidup yang justru melemahkan rasa syukur.

Perkara ketiga yang tidak bisa dihindari manusia adalah ujian berupa penilaian, kritik, atau celaan dari orang lain. Apa pun yang dilakukan seseorang, selalu ada kemungkinan mendapat tanggapan negatif. Bahkan, dalam kondisi apa pun, saat hujan atau tidak hujan, saat berhasil maupun gagal, manusia tetap berpotensi menjadi sasaran komentar.

“Manusia sering mengeluh ketika dinilai atau dikritik, padahal pada saat yang sama kita juga kerap melakukan hal serupa kepada orang lain,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi diri. Menurutnya, kritik dan ujian sosial kerap menjadi sarana pembelajaran agar manusia lebih rendah hati, lebih sabar, dan lebih sadar akan keterbatasan diri.

Ia menekankan bahwa Islam mengajarkan kesiapan menghadapi ketiga perkara tersebut dengan iman dan kesadaran diri. Kematian menuntut persiapan amal, masalah menuntut kesabaran dan ikhtiar, sementara ujian sosial menuntut kebijaksanaan dan kelapangan hati.

Selanjutnya, kuliah Shubuh ditutup dengan ajakan kepada jamaah untuk memanfaatkan momentum bulan Rajab dan Syaban sebagai masa memperbaiki diri, memperkuat iman, dan mempersiapkan lahir batin menjelang Ramadhan.

“Kesadaran bahwa hidup tidak pernah lepas dari kematian, masalah, dan ujian seharusnya membuat manusia lebih bijak, bukan putus asa,” katanya.