Melihat Tanda Kebesaran Allah di Balik Setiap Peristiwa
Kajian rutin ba'da Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar pada Jumat pagi dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Pd. sebagai pemateri. Dalam kesempatan tersebut, beliau melanjutkan pembahasan Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dengan mengangkat tema tentang bagaimana seorang hamba mampu melihat Allah SWT melalui seluruh ciptaan-Nya, Jum’at (10/7/2026).
Kajian
rutin ba'da Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar
pada Jumat pagi dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Pd. sebagai
pemateri. Dalam kesempatan tersebut, beliau melanjutkan pembahasan Kitab
Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dengan mengangkat tema tentang
bagaimana seorang hamba mampu melihat Allah SWT melalui seluruh ciptaan-Nya, Jum’at
(10/7/2026).
Di
hadapan jamaah, Ustadz Ahmad Rifki menjelaskan bahwa manusia sering kali
terjebak hanya memandang sesuatu sebatas bentuk lahiriahnya. Padahal, seluruh
makhluk yang ada di langit maupun di bumi sesungguhnya merupakan tanda (dalil)
yang mengantarkan manusia untuk mengenal kebesaran Allah SWT.
Beliau
mengutip hikmah Imam Ibnu Athaillah yang menjelaskan bahwa Allah membuka pintu
pemahaman kepada hamba-Nya agar tidak berhenti pada wujud benda semata, tetapi
mampu menangkap makna dan kebesaran Allah yang berada di balik seluruh ciptaan.
"Jangan
sampai alam semesta menjadi hijab yang menghalangi kita dari Allah. Justru
seluruh makhluk harus menjadi dalil yang mengantarkan kita semakin
mengenal-Nya," terang beliau.
Menurutnya,
matahari, hujan, angin, gunung, lautan, tumbuhan, bahkan kesehatan maupun sakit
yang dialami manusia bukan sekadar fenomena alam biasa. Semua merupakan tanda
kekuasaan Allah yang mengajak manusia untuk semakin dekat kepada-Nya.
Beliau
memberikan analogi sederhana seperti papan petunjuk jalan. Seseorang yang melihat
rambu menuju Surabaya tentu tidak berhenti hanya memperhatikan warna hijau atau
bentuk papan tersebut, melainkan memahami bahwa papan itu menunjukkan arah
menuju tujuan. Demikian pula alam semesta, seluruh ciptaan bukanlah tujuan
akhir, tetapi petunjuk menuju pengenalan kepada Allah SWT.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Ahmad Rifki juga menjelaskan konsep "tahwilul
kauni minal hijabi ilad dalil", yaitu mengubah cara pandang terhadap
alam. Jika sebelumnya makhluk hanya dipandang sebagai benda yang dapat melalaikan,
maka seorang mukmin hendaknya menjadikannya sebagai dalil yang menunjukkan
wujud, sifat, kasih sayang, dan kekuasaan Allah SWT.
Beliau
mencontohkan, ketika seseorang memperoleh kesehatan, ia hendaknya menyadari
bahwa semua itu merupakan karunia Allah. Begitu pula saat diuji dengan sakit,
seorang hamba tidak hanya melihat penyakitnya, tetapi juga memahami bahwa di
baliknya terdapat hikmah, kasih sayang, serta kehendak Allah yang tidak dapat
diatur oleh manusia.
"Di
balik semua kejadian, ada Allah SWT yang mengatur semuanya. Tidak ada sesuatu
yang terjadi tanpa kehendak-Nya," ungkapnya.
Agar
kesadaran tersebut terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, beliau mengajak
jamaah memperbanyak dzikir yang disertai tafakur. Dzikir seperti Laa haula
wa laa quwwata illa billah, Laa ilaaha illallah, Subhanallah,
dan Alhamdulillah tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga
dihayati maknanya sehingga hati semakin menyadari bahwa seluruh kekuatan,
nikmat, dan kejadian berasal dari Allah SWT.
Menurut
beliau, seseorang tidak harus memulai dengan amalan yang berat. Meluangkan
beberapa menit setiap hari untuk berdzikir dan merenungi tanda-tanda kebesaran
Allah sudah menjadi langkah awal yang sangat baik dalam membangun kedekatan
dengan-Nya.
Di
akhir kajian, Ustadz Ahmad Rifki mengajak seluruh jamaah agar meningkatkan
kualitas pandangan batin. Tidak hanya melihat indahnya gunung, lautan,
matahari, tumbuhan, maupun berbagai peristiwa kehidupan, tetapi juga menangkap
pesan keimanan yang terkandung di balik semuanya.
"Jangan
hanya melihat alam, tetapi lihatlah siapa yang menciptakan alam. Semoga setiap
yang kita lihat semakin menambah kecintaan, keyakinan, dan kedekatan kita
kepada Allah SWT," pungkasnya.
Kajian Subuh ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa seluruh fenomena kehidupan merupakan sarana untuk mengenal Sang Pencipta. Dengan hati yang senantiasa dihiasi dzikir dan tafakur, seorang mukmin akan mampu menjadikan setiap peristiwa sebagai jalan menuju makrifat kepada Allah SWT.
