Menata Hati agar Ridha atas Ketentuan Allah
BOJONEGORO, Kajian Subuh Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari kembali digelar seusai Salat Subuh berjamaah di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini menekankan pentingnya menata hati agar senantiasa ridha terhadap segala ketentuan Allah SWT, baik yang terjadi pada pagi, siang, maupun sore hari, Kamis (4/12/2025).
BOJONEGORO,
Kajian Subuh Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah
As-Sakandari kembali digelar seusai Salat Subuh berjamaah di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro ini menekankan pentingnya menata hati agar senantiasa
ridha terhadap segala ketentuan Allah SWT, baik yang terjadi pada pagi, siang,
maupun sore hari, Kamis (4/12/2025).
Dalam pengantar kajian, Ustadz
Rifqi mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat iman dan Islam, serta konsistensi
melaksanakan Salat Subuh berjamaah. Menurutnya, segala peristiwa yang dialami
manusia sejatinya merupakan kehendak Allah yang perlu diterima dengan lapang
dada dan penuh kerelaan.
“Hati perlu ditata agar ridha
terhadap apa pun yang akan diperbuat Allah. Semua kejadian adalah kehendak-Nya
dan mengandung hikmah,” ujar Ustadz Rifqi.
Ia mengutip nasihat ulama sufi, di
antaranya Abu al-Hasan asy-Syadzili, yang menekankan pentingnya sikap pasrah
dan ridha terhadap Allah sebagai fondasi perjalanan spiritual seorang hamba.
Ridha, menurutnya, bukan sekadar menerima, tetapi menyadari bahwa setiap
peristiwa adalah bagian dari cara Allah memperkenalkan sifat-sifat-Nya kepada
manusia.
Kajian kemudian membahas perbedaan
antara ahli ibadah, orang zuhud, dan mereka yang telah mencapai maqam makrifat (arif
billah). Seorang arif billah, kata Ustadz
Rifqi, mampu melihat kehadiran Allah dalam setiap peristiwa, termasuk dalam
keadaan sempit, gelisah, maupun sulit.
“Ketika seseorang merasa sempit atau
gelisah, sering kali itu karena ia belum melihat bahwa peristiwa tersebut
merupakan tajalli, atau penampakan kehendak Allah,” jelasnya.
Menurutnya, kemiskinan, kesempitan
rezeki, maupun kemudahan hidup merupakan sarana bagi manusia untuk mengenal
sifat Allah, seperti Maha Memberi, Maha Menahan, Maha Menjaga, dan Maha
Mengatur. Kesadaran inilah yang membedakan zuhud sejati dengan sekadar menjauh
dari dunia tanpa pemahaman spiritual yang utuh.
Ustadz Rifqi juga mengingatkan
bahwa zuhud tidak selalu berarti meninggalkan dunia secara fisik, melainkan
menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Dunia boleh dimiliki, tetapi tidak
boleh menguasai orientasi hidup seorang hamba.
“Siapa pun yang meninggalkan
sesuatu karena Allah, niscaya akan diganti dengan kenikmatan yang lebih besar,”
katanya, seraya menegaskan bahwa zuhud yang benar harus dibimbing oleh
pemahaman dan guru yang tepat agar tidak melenceng dari syariat.
Kajian Subuh ini ditutup dengan doa bersama dan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Jamaah berharap kajian rutin tersebut dapat terus memperkuat pemahaman tasawuf yang membumi, sekaligus menumbuhkan ketenangan batin dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
