Menjaga Kemandirian, Mencari Rezeki Halal, dan Mengutamakan Akhirat
Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali berlangsung dengan penuh khidmat. Pada kesempatan kali ini, Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A. melanjutkan pembahasan kitab Q?tul Qul?b f? Mu‘?malatil Ma?b?b karya Syekh Abu Thalib Al-Makki. Dalam kajian tersebut, beliau mengupas pentingnya memiliki penghasilan yang halal sebagai bentuk menjaga kehormatan diri, independensi ulama, serta menjadikan pekerjaan sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat, Rabu, (22/07/2026).
Kajian
rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali
berlangsung dengan penuh khidmat. Pada kesempatan kali ini, Dr. H. Yogi Prana
Izza, Lc., M.A. melanjutkan pembahasan kitab Q?tul Qul?b f? Mu‘?malatil
Ma?b?b karya Syekh Abu Thalib Al-Makki. Dalam kajian tersebut, beliau
mengupas pentingnya memiliki penghasilan yang halal sebagai bentuk menjaga
kehormatan diri, independensi ulama, serta menjadikan pekerjaan sebagai jalan menuju
kebahagiaan akhirat, Rabu, (22/07/2026).
Mengawali
kajian, Dr. Yogi mengutip nasihat dari Imam Sufyan Ats-Tsauri yang menjelaskan
bahwa seorang alim yang tidak memiliki sumber penghidupan dikhawatirkan akan
menjadi perpanjangan tangan kezaliman. Demikian pula seorang ahli ibadah yang
tidak memiliki pekerjaan berpotensi menjadikan agama sebagai alat mencari
keuntungan dunia, sedangkan orang yang minim ilmu agama tanpa penghasilan mudah
dimanfaatkan oleh pelaku kemaksiatan.
Beliau
menjelaskan bahwa memiliki pekerjaan bukanlah tanda cinta dunia, melainkan
bentuk menjaga kehormatan dan kemandirian. Sebagai contoh, Imam Sufyan
Ats-Tsauri pernah membawa sejumlah dinar. Ketika ditanya mengapa seorang ulama
memegang harta, beliau menjawab bahwa tanpa harta yang halal, seorang ulama
dapat kehilangan independensinya dan bergantung kepada para penguasa. Kisah ini
menunjukkan bahwa ekonomi yang kuat menjadi benteng agar ilmu tetap lurus dan
tidak mudah dipengaruhi kepentingan duniawi.
Dr.
Yogi kemudian mengaitkan penjelasan tersebut dengan firman Allah dalam Surah
At-Taubah tentang sebagian ahli agama yang memakan harta manusia dengan cara
batil. Beliau menguraikan kisah Salman Al-Farisi yang menemukan adanya tokoh
agama yang memanfaatkan kedudukannya untuk menumpuk kekayaan dari para
pengikutnya. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa Al-Qur'an menggunakan kata
"kebanyakan", yang berarti tidak semua ulama atau ahli ibadah
berperilaku demikian. Bahkan Salman Al-Farisi kemudian bertemu dengan seorang
rahib yang saleh dan darinya memperoleh petunjuk menuju Islam.
Dalam
kajian tersebut, jamaah juga diajak meneladani para ulama besar yang tetap
bekerja meski memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu agama. Imam Abu Hanifah
dikenal sebagai saudagar kain sutra yang sukses, tetapi sangat menjaga
kejujuran dalam berdagang. Ketika mengetahui ada barang cacat yang terjual
tanpa penjelasan kepada pembeli, beliau memilih menyedekahkan seluruh
keuntungan yang diperoleh karena khawatir terdapat unsur syubhat. Begitu pula
Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari yang tetap bertani sebagai bentuk menjaga
kemandirian seorang ulama.
Lebih
lanjut, Dr. Yogi menerangkan bahwa orang yang minim ilmu agama dan tidak
memiliki penghasilan yang baik akan lebih mudah dieksploitasi. Mereka dapat
dimanfaatkan menjadi perantara berbagai bentuk kemaksiatan karena lemahnya
pemahaman agama serta dorongan kebutuhan ekonomi. Oleh sebab itu, Islam
mendorong umatnya untuk membekali diri dengan ilmu sekaligus bekerja secara
halal agar tidak mudah terseret dalam keburukan.
Mengutip
nasihat Yahya bin Mu'adz, beliau membagi manusia menjadi tiga golongan.
Pertama, orang yang lebih disibukkan oleh akhirat sehingga dunia sekadar
menjadi penunjang; inilah derajat orang-orang yang meraih kemenangan. Kedua,
orang yang bekerja mencari kehidupan dunia sebagai bekal untuk beribadah dan
meraih akhirat; inilah golongan yang selamat dan menjadi teladan bagi
kebanyakan kaum mukminin. Ketiga, orang yang seluruh hidupnya disibukkan oleh
urusan dunia hingga melupakan akhirat; inilah golongan yang merugi.
Sebagai
penegas, Dr. Yogi mengajak jamaah merenungkan Surah Al-Jumu'ah ayat 9–10. Allah
memerintahkan kaum beriman untuk meninggalkan aktivitas perdagangan ketika azan
Jumat berkumandang dan segera memenuhi panggilan salat. Setelah ibadah selesai,
umat Islam diperintahkan kembali bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia
Allah. Menurut beliau, ayat ini menunjukkan keseimbangan Islam antara ibadah
dan ikhtiar, sehingga bekerja bukanlah lawan dari ibadah, melainkan bagian dari
pengabdian kepada Allah apabila diniatkan dengan benar.
Beliau
juga mengingatkan berbagai keutamaan hari Jumat, mulai dari anjuran
memperbanyak selawat, membaca Surah Al-Kahfi, mengenakan pakaian terbaik,
memakai wewangian, hingga bersegera menuju masjid. Setelah salat Jumat usai,
umat Islam dianjurkan kembali bekerja dan mencari rezeki yang halal sembari
terus memperbanyak zikir kepada Allah agar setiap aktivitas dunia tetap
bernilai ibadah.
Menutup kajian, Dr. H. Yogi Prana Izza mengajak seluruh jamaah agar senantiasa istiqamah dalam ketaatan, diberi kekuatan menjalani kehidupan dengan rezeki yang halal dan penuh keberkahan, serta dianugerahi husnul khatimah di akhir hayat. Kajian kemudian ditutup dengan istigfar, doa bersama, dan pembacaan Surah Al-Fatihah.
