Detail Berita

Menjaga Salat Tepat Waktu sebagai Amal Paling Mulia

Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan Abuya Hasan Nur sebagai pemateri. Dalam kajian tersebut, beliau mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga salat lima waktu tepat pada waktunya karena merupakan amal yang paling utama di sisi Allah SWT, Kamis (23/7/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan Abuya Hasan Nur sebagai pemateri. Dalam kajian tersebut, beliau mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga salat lima waktu tepat pada waktunya karena merupakan amal yang paling utama di sisi Allah SWT, Kamis (23/7/2026).

Mengawali tausiahnya, Abuya Hasan Nur mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT limpahkan. Beliau juga mendoakan agar seluruh jamaah diberikan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, dikabulkan segala hajatnya, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Dalam kesempatan tersebut, Abuya Hasan Nur menyampaikan sebuah riwayat dari Sayyidina Abdullah bin Abbas r.a. tentang tiga perkara yang paling utama, yaitu hari yang paling mulia, bulan yang paling mulia, dan amal yang paling mulia.

Menurut beliau, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa hari yang paling istimewa adalah hari Jumat. Hari Jumat disebut sebagai Sayyidul Ayyam atau rajanya seluruh hari. Pada hari tersebut pahala amal kebaikan dilipatgandakan dan terdapat beberapa waktu mustajab untuk berdoa, di antaranya ketika khatib duduk di antara dua khutbah serta setelah Salat Asar hingga menjelang Magrib. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan amal saleh pada hari Jumat.

Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa bulan yang paling mulia adalah bulan Ramadan. Ramadan merupakan bulan penuh keberkahan yang di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memanfaatkan Ramadan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Adapun mengenai amal yang paling utama, Abuya Hasan Nur menegaskan bahwa salat lima waktu yang dikerjakan tepat pada waktunya merupakan amal yang paling dicintai Allah SWT. Beliau mengingatkan bahwa panggilan azan adalah undangan langsung dari Allah kepada hamba-Nya. Seorang muslim yang segera memenuhi panggilan tersebut akan memperoleh keberuntungan dan berbagai kemuliaan di sisi Allah SWT.

Dalam penjelasannya, beliau juga menekankan keutamaan Salat Subuh berjamaah. Menurutnya, seseorang yang istiqamah melaksanakan Salat Subuh tepat waktu dan berjamaah akan mendapatkan pertolongan serta kecukupan dari Allah SWT dalam berbagai urusannya. Beliau kemudian menceritakan pengalaman seorang ulama di Condet, Jakarta, yang masjidnya selalu dipenuhi jamaah hanya untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah. Hal tersebut menunjukkan besarnya keutamaan ibadah tersebut di mata Allah SWT.

Abuya Hasan Nur juga mengingatkan agar kaum muslimin tidak menunda-nunda pelaksanaan salat. Menurut beliau, kualitas salat menjadi barometer tingkat ketakwaan seseorang. Apabila salat seseorang baik, khusyuk, dan istiqamah, maka ibadah-ibadah lainnya pun cenderung akan ikut baik. Sebaliknya, apabila salat diabaikan, maka hal itu akan berpengaruh terhadap kualitas amal-amal lainnya.

Beliau kemudian mengutip hadis bahwa amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah salat. Jika salat seorang hamba diterima dan baik, maka amal-amal lainnya akan mengikuti. Namun apabila salatnya rusak, maka amal lainnya pun ikut terancam tidak diterima. Karena itu, beliau mengingatkan agar jangan sampai seseorang rajin bersedekah atau melakukan berbagai amal sosial, tetapi masih meninggalkan kewajiban salat lima waktu.

Menutup kajiannya, Abuya Hasan Nur kembali mengajak seluruh jamaah untuk mengamalkan tiga pesan utama yang disampaikan Ibnu Abbas, yakni memuliakan hari Jumat, memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya, dan menjaga salat lima waktu tepat pada waktunya serta berjamaah sebagai jalan meraih taufik, hidayah, dan rida Allah SWT. Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah senantiasa diberi kekuatan untuk istiqamah dalam beribadah dan memperoleh keberkahan hidup di dunia maupun di akhirat.