Menyambut Ramadhan dengan Kesadaran Spiritual
BOJONEGORO — KH. Hilmi al Jumadi mengajak jamaah untuk memperkuat rasa syukur atas nikmat Allah serta meningkatkan kedekatan dengan Alquran, khususnya menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Ahad (4/1/2026).
BOJONEGORO
— KH. Hilmi al
Jumadi mengajak jamaah untuk memperkuat rasa syukur atas nikmat Allah serta meningkatkan
kedekatan dengan Alquran, khususnya menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro, Ahad (4/1/2026).
Beliau menegaskan bahwa nikmat
Allah yang diterima manusia sangat melimpah, mulai dari kesehatan, waktu luang,
iman, hingga Islam itu sendiri. Namun, banyak dari nikmat tersebut kerap luput
dari kesadaran manusia.
“Jika disadari dan disyukuri,
nikmat akan langgeng dan bahkan ditambah oleh Allah,” ujarnya.
Menurutnya, syukur bukan hanya
diucapkan, tetapi diwujudkan dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk
ketaatan, seperti beribadah, menghadiri majelis ilmu, dan mendekatkan diri
kepada Alquran. Ia berharap agar manusia dapat mempertahankan sikap syukur
hingga akhir hayat dan meraih husnul khatimah.
Dalam tausiyahnya, Kyai Hilmi juga
menyoroti keutamaan Surat Yasin yang dikenal sebagai qalbul Quran
atau inti Alquran. Surat ini, kata Kyai Hilmi, memiliki kedudukan istimewa
karena kerap dibaca dalam berbagai momentum keagamaan, termasuk tahlil dan doa
bagi orang yang telah wafat.
Beliau menjelaskan bahwa Alquran
bukan hanya bacaan ritual, melainkan sarana untuk memahami kebesaran dan
kekuasaan Allah. Melalui ayat-ayatnya, Allah menunjukkan bahwa manusia
sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya, namun tetap diberi kesempatan untuk
bertobat hingga ajal tiba.
“Allah Mahakuasa untuk langsung
memberi hukuman, tetapi Dia Maha Pengasih karena masih memberi manusia waktu
untuk kembali,” katanya.
Kyai Hilmi juga mengingatkan agar
umat Islam tidak mudah merendahkan atau menghina orang lain. Menurutnya, sikap
merasa paling benar dan meremehkan sesama justru bisa mendatangkan murka Allah.
Beliau menekankan pentingnya menjaga prasangka baik (husnuzan),
karena kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak selalu tampak dari penampilan
luar.
Beliau mencontohkan kisah para wali
dan orang-orang saleh yang hidup sederhana, bahkan tampak biasa di mata
manusia, tetapi memiliki kedudukan mulia di hadapan Allah. Karena itu, Beliau
mengajak jamaah untuk lebih berhati-hati dalam menilai orang lain.
Menjelang Ramadhan, jamaah juga
diajak untuk meningkatkan interaksi dengan Alquran, baik dengan membaca,
mendengarkan, maupun memahami maknanya. Ia mengingatkan bahwa pahala membaca
Alquran dilipatgandakan, bahkan bagi mereka yang belum lancar atau hanya
mendengarkannya dengan khusyuk.
“Ramadhan adalah bulan yang mulia
dan patut dihormati. Ini adalah kesempatan besar untuk memperbanyak zikir,
istighfar, dan memperbaiki diri,” ujarnya.
Selain Ramadhan, Beliau juga
menyinggung keutamaan bulan Rajab sebagai bulan istighfar dan salah satu dari
empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Momentum ini, menurutnya,
seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak tobat dan mendekatkan diri kepada
Allah.
Akhirnya, kuliah Shubuh ditutup dengan doa agar jamaah diberi keberkahan, ampunan dosa, serta kekuatan iman dalam menjalani kehidupan. Kyai Hilmi berharap pesan-pesan keagamaan tersebut dapat menjadi bekal spiritual dalam menyambut Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan kesadaran yang lebih mendalam.
