Detail Berita

Nabi Isa Adalah Hamba dan Rasul Allah

Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menghadirkan KH. Ahmad Maimun Syafi'i sebagai pemateri. Dalam kajian tafsir tersebut, beliau mengulas Surah Maryam ayat 37 yang menjelaskan perselisihan berbagai golongan mengenai hakikat Nabi Isa Alaihissalam sekaligus menegaskan akidah Islam tentang kedudukan beliau sebagai hamba dan utusan Allah, Sabtu (18/07/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menghadirkan KH. Ahmad Maimun Syafi'i sebagai pemateri. Dalam kajian tafsir tersebut, beliau mengulas Surah Maryam ayat 37 yang menjelaskan perselisihan berbagai golongan mengenai hakikat Nabi Isa Alaihissalam sekaligus menegaskan akidah Islam tentang kedudukan beliau sebagai hamba dan utusan Allah, Sabtu (18/07/2026).

Di hadapan jamaah, KH. Ahmad Maimun Syafi'i menjelaskan bahwa setelah Nabi Isa diangkat oleh Allah SWT ke langit, muncul berbagai kelompok yang memiliki keyakinan berbeda tentang diri beliau. Perbedaan inilah yang kemudian menjadi sebab perselisihan di kalangan kaum Nasrani.

Beliau menerangkan bahwa terdapat beberapa golongan yang berkembang pada masa itu. Ada kelompok yang meyakini Nabi Isa sebagai Tuhan, kelompok yang menganggap beliau sebagai anak Allah, serta kelompok yang mempercayai konsep tiga oknum ketuhanan dengan menempatkan Allah, Nabi Isa, dan Maryam sebagai bagian dari ketuhanan. Menurut beliau, berbagai keyakinan tersebut merupakan bentuk penyimpangan dari ajaran tauhid yang dibawa para nabi.

KH. Ahmad Maimun Syafi'i kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur'an datang meluruskan seluruh penyimpangan tersebut. Islam menegaskan bahwa Nabi Isa bukanlah Tuhan, bukan pula anak Tuhan ataupun bagian dari ketuhanan, melainkan seorang hamba Allah, Rasul Allah, serta Kalimatullah yang diutus untuk menyampaikan risalah kepada Bani Israil.

Beliau mengingatkan bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Suci dan tidak menyerupai makhluk-Nya. Oleh karena itu, menurut akidah Islam, tidak mungkin Allah memiliki sifat-sifat makhluk seperti makan, minum, atau dilahirkan. Prinsip inilah yang menjadi dasar penting dalam menjaga kemurnian tauhid.

Dalam kajiannya, KH. Ahmad Maimun Syafi'i juga menyinggung sejarah perjalanan dakwah kaum muslimin yang pada masa-masa awal sering menghadapi penolakan bahkan kekerasan. Beliau mengutip keterangan para ulama tafsir mengenai perjuangan para nabi dan orang-orang yang menyerukan amar makruf nahi mungkar, yang tidak sedikit harus menghadapi ancaman hingga kehilangan nyawa karena mempertahankan kebenaran.

Meski demikian, beliau menegaskan bahwa kemenangan Islam tidak selalu diukur dari kemenangan fisik di medan perang. Sebagaimana yang pernah terjadi dalam Perang Uhud, umat Islam pernah mengalami kekalahan secara lahiriah. Namun pada hakikatnya, kebenaran agama Allah tetap terjaga dan tidak akan pernah dapat dikalahkan oleh kebatilan.

Lebih lanjut, beliau mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari kisah tersebut dengan menjaga kemurnian akidah serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai pemahaman yang menyimpang dari ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Menurutnya, seorang muslim harus tetap istiqamah meyakini bahwa Nabi Isa adalah salah seorang rasul pilihan Allah yang wajib dihormati, namun tidak boleh diangkat derajatnya hingga melebihi kedudukannya sebagai hamba Allah.

Menutup kajiannya, KH. Ahmad Maimun Syafi'i mengajak seluruh jamaah agar senantiasa memohon kepada Allah SWT untuk diberi hidayah menuju jalan yang lurus sebagaimana doa yang selalu dibaca dalam Surah Al-Fatihah, yaitu jalan orang-orang yang memperoleh nikmat dari Allah, bukan jalan mereka yang menyimpang dari kebenaran. Dengan berpegang teguh pada akidah yang benar, umat Islam diharapkan tetap istiqamah hingga akhir hayat dan memperoleh keselamatan di dunia maupun akhirat.