Nikmat Kesehatan dan Pentingnya Zikir untuk Membersihkan Hati
BOJONEGORO, Nikmat sehat dan kekuatan iman menjadi dua anugerah besar yang kerap terlupakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu mengemuka dalam sebuah pengajian yang digelar di hadapan jamaah sholat Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Senin (8/12/2025).
BOJONEGORO,
Nikmat sehat dan kekuatan iman menjadi dua anugerah besar yang kerap terlupakan
dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu mengemuka dalam sebuah pengajian yang
digelar di hadapan jamaah sholat Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro,
Senin (8/12/2025).
Dalam tausiyahnya, KH. Abdul Aziz menekankan
bahwa kesehatan merupakan nikmat agung yang menjadi dasar bagi terlaksananya
berbagai ibadah. Beliau mengutip kisah seorang sahabat yang datang kepada
Rasulullah SAW untuk meminta nasihat. Nabi, menurutnya, tidak memberikan
wejangan panjang, melainkan menganjurkan agar umat Islam senantiasa memohon al-afiyah
(kesehatan dan keselamatan).
“Ketika seseorang sehat, duduk
terasa nyaman, berzikir pun enak, dan ibadah dapat dilakukan dengan khusyuk.
Namun saat sakit, semua itu terasa berat,” ujarnya.
Beliau mengingatkan bahwa
bertambahnya usia tak dapat dihindari dan kerap diiringi dengan berkurangnya
kekuatan fisik, penglihatan, maupun pendengaran. Karena itu, kesehatan perlu
disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk beribadah dan berbuat kebaikan.
Selain kesehatan jasmani, Yai Aziz
menyoroti pentingnya menjaga kesehatan rohani, khususnya kebersihan hati. Ia
menggambarkan hati manusia yang kotor ibarat besi yang berkarat, sehingga
menghalangi kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.
“Salah satu penyebab hati berkarat
adalah cinta dunia yang berlebihan. Ketika dunia menjadi tujuan utama, seseorang
menjadi enggan mengingat kematian dan hubungannya dengan Allah pun menjauh,”
katanya.
Menurutnya, hati yang telah
mengeras akan sulit menerima nasihat, bahkan ayat-ayat Al Quran dan mauidah
hasanah hanya berlalu tanpa membekas. Karena itu, Allah memberikan jalan untuk
membersihkan hati, yakni melalui zikir.
Zikir, lanjutnya, tidak terbatas
pada ucapan tertentu, tetapi mencakup seluruh ibadah yang bermuara pada
mengingat Allah, seperti salat, membaca Al Quran, tawaf, dan manasik haji. Ia
mengutip firman Allah dalam Al Quran yang menegaskan bahwa salat ditegakkan
untuk mengingat-Nya.
Dalam pengajian tersebut juga
disampaikan bahwa iman bersifat dinamis, kadang menguat, kadang melemah. Tanda
iman yang menguat, antara lain, adalah kemudahan dalam beribadah, kekhusyukan
dalam salat, serta kesiapan melakukan kebaikan. Sebaliknya, ketika iman
melemah, ibadah terasa berat dan hati mudah terdistraksi oleh urusan dunia.
“Ketika iman menurun, jangan putus
asa. Zikir tetap perlu dilakukan, meski terasa belum khusyuk. Ucapan zikir yang
terus dilafalkan akan perlahan membersihkan kotoran hati,” ujarnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa dosa
meninggalkan noda hitam di hati. Namun, melalui taubat dan istighfar, noda
tersebut dapat dihapus hingga hati kembali bersih dan bening seperti kaca.
Dalam kondisi itulah, hubungan seorang hamba dengan Allah menjadi lebih dekat.
Pengajian tersebut ditutup dengan penguatan tentang luasnya rahmat Allah SWT. Bahkan iman sekecil apa pun, selama masih ada kalimat la ilaha illallah di dalam hati, menjadi cahaya yang kelak menyelamatkan seorang hamba. Jamaah pun diajak untuk senantiasa menghidupkan zikir agar hati tetap bersih dan akhir kehidupan ditutup dengan husnul khatimah.
