Pelajaran dari Doa Nabi Zakaria
Bojonegoro, Doa yang dipanjatkan secara lirih dan penuh keikhlasan dinilai lebih dekat dengan penerimaan Ilahi dibandingkan doa yang diucapkan dengan dorongan pamer atau ingin dilihat manusia. Pesan tersebut mengemuka dalam kajian keislaman yang membahas Surat Maryam, khususnya ayat-ayat awal yang diawali dengan huruf muqatha’ah Kaf Ha Ya ‘Ain Shad, Sabtu (17/1/2026).
Bojonegoro,
Doa yang dipanjatkan secara lirih dan penuh keikhlasan dinilai lebih dekat
dengan penerimaan Ilahi dibandingkan doa yang diucapkan dengan dorongan pamer
atau ingin dilihat manusia. Pesan tersebut mengemuka dalam kajian keislaman
yang membahas Surat Maryam, khususnya ayat-ayat awal yang diawali dengan huruf
muqatha’ah Kaf
Ha Ya ‘Ain Shad, Sabtu (17/1/2026).
Dalam kajian tersebut dijelaskan
bahwa pembuka Surat Maryam menandai kisah tentang rahmat Allah kepada
hamba-Nya, Nabi Zakaria. Mayoritas ulama menempatkan Kaf Ha Ya ‘Ain
Shad sebagai bagian dari surat, sekaligus penanda kemuliaan
kandungan ayat-ayat setelahnya yang mengisahkan doa dan pengabulan permohonan
Nabi Zakaria.
Nabi Zakaria digambarkan sebagai
sosok yang berdoa kepada Allah dengan nida’an khafiyyan,
yakni doa yang dipanjatkan secara pelan dan tersembunyi. Menurut KH. A. Maimun
Syafi’i, cara berdoa seperti ini mencerminkan tingkat keikhlasan yang tinggi
serta menjauhkan diri dari sifat riya atau pamer ibadah.
“Doa yang lirih lebih dekat dengan
keikhlasan dan lebih jauh dari dorongan ingin dipuji,” ujar Mbah Mun, seraya
mengutip penafsiran para ulama tafsir klasik.
Dalam doanya, Nabi Zakaria juga
mengungkapkan kondisi fisiknya yang telah renta. Beliau menyampaikan bahwa
tulang-belulangnya telah melemah dan rambutnya telah memutih. Penyebutan
tulang, menurut Mbah Mun, bukan tanpa makna. Tulang dipahami sebagai penopang
utama tubuh, sehingga ketika tulang melemah, itu menjadi simbol rapuhnya
kondisi fisik manusia secara keseluruhan.
Namun, keterbatasan fisik tersebut
tidak menghalangi Nabi Zakaria untuk terus berharap kepada Allah. Ia tetap
memohon keturunan, bukan karena dorongan duniawi, melainkan demi
keberlangsungan dakwah dan penjagaan nilai-nilai agama setelah wafatnya.
Kajian tersebut juga menyinggung
konsep tawasul dalam doa. Nabi Zakaria disebut selalu berdoa dengan menyertakan
amal-amal saleh yang telah ia lakukan sebelumnya sebagai bentuk pendekatan diri
kepada Allah. Hal ini, menurut Mbah Mun, menunjukkan bahwa tawasul melalui amal
saleh memiliki dasar kuat dalam Al Quran dan praktik para nabi.
Perbedaan pandangan mengenai
tawasul di kalangan umat Islam turut disinggung. Meski demikian, Mbah Mun menegaskan
bahwa tawasul melalui amal saleh, seperti sedekah, kejujuran, dan ketulusan
ibadah, merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang disepakati banyak
ulama.
Kisah Nabi Zakaria dalam Surat
Maryam juga diletakkan dalam rangkaian teladan para nabi lainnya, termasuk Nabi
Adam yang memohon ampun kepada Allah dengan menyebut kemuliaan Nabi Muhammad.
Hal ini dipahami sebagai pengakuan atas kedudukan tinggi Rasulullah dalam
tatanan kenabian.
Kajian ditutup dengan ajakan agar
umat Islam senantiasa meneladani jalan hidup para nabi, orang-orang yang jujur,
para syuhada, dan orang-orang saleh sebagaimana termaktub dalam doa ihdinash
shirathal mustaqim. Jalan lurus tersebut, menurut Mbah Mun, adalah
jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan kesesatan.
Dengan menghidupkan doa yang ikhlas, amal saleh, dan keteladanan para nabi, umat diharapkan mampu menjaga kualitas spiritualitas di tengah tantangan kehidupan modern.
