Pentingnya Iqomatus Shalah, Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban
Bojonegoro - Pelaksanaan shalat tidak cukup hanya dipahami sebagai rutinitas ibadah formal. Lebih dari itu, shalat harus ditegakkan secara lahir dan batin agar mampu membentuk karakter dan mencegah perilaku menyimpang. Hal tersebut disampaikan dalam kajian Subuh Kitab Al-Hikam karya Imam Ahmad bin Abdullah Al-Iskandari, Jumat, (23/1/2026).
Bojonegoro
- Pelaksanaan shalat tidak cukup hanya dipahami sebagai rutinitas ibadah
formal. Lebih dari itu, shalat harus ditegakkan secara lahir dan batin agar
mampu membentuk karakter dan mencegah perilaku menyimpang. Hal tersebut
disampaikan dalam kajian Subuh Kitab Al-Hikam karya Imam
Ahmad bin Abdullah Al-Iskandari, Jumat, (23/1/2026).
Dalam kajian tersebut dijelaskan
perbedaan mendasar antara wujudus shalah, yakni
sekadar melaksanakan shalat, dengan iqomatus shalah, yaitu
menegakkan shalat secara sempurna, baik dari sisi syarat, rukun, maupun
penghayatan batiniah. Shalat yang ditegakkan dengan benar diyakini memiliki
dampak langsung pada kondisi hati dan perilaku seseorang.
“Bacaan dalam shalat sejatinya mampu
mengubah keadaan batin. Ketika yang dibaca adalah ayat ancaman, hati seharusnya
diliputi rasa takut. Ketika yang dibaca adalah janji Allah, hati semestinya
dipenuhi harap. Dari situlah shalat membentuk rasa dan sikap hidup,” ujar Ustadz
Rifki.
Ia menekankan, shalat yang benar
seharusnya mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Jika shalat
justru tidak memberi pengaruh terhadap perilaku, hal itu menjadi tanda bahwa
ibadah tersebut belum ditegakkan secara sungguh-sungguh.
Dalam penjelasannya, Ustadz Rifki
mengutip pandangan para ulama tasawuf yang menegaskan bahwa kesempurnaan shalat
tidak hanya terletak pada gerakan fisik seperti rukuk dan sujud, tetapi juga
pada hadirnya rasa tunduk, pasrah, dan rendah hati di hadapan Allah. Rukuk dan
sujud disebut sebagai momentum puncak penghambaan, ketika kesombongan dan riya
seharusnya diluruhkan.
“Gerakan shalat yang sempurna harus
disertai kesadaran penuh bahwa seluruh anggota tubuh, bahkan hati dan pikiran,
sedang menghadap Allah,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa
tantangan terbesar dalam shalat adalah menjaga niat dan kekhusyukan dari awal
takbir hingga salam. Berdasarkan riwayat ulama, dari ribuan orang yang
melaksanakan shalat, hanya sedikit yang benar-benar mampu menyempurnakan aspek
batiniah ibadah tersebut.
Kajian tersebut turut mengaitkan
konsep iqomatus
shalah dengan ayat-ayat Al Quran yang menyebut ciri orang bertakwa,
yakni mereka yang beriman kepada hal-hal gaib dan menegakkan shalat secara
konsisten. Penegakan shalat, menurut Ustadz Rifki, menjadi fondasi utama
pembentukan iman dan akhlak.
Sebagai penutup, jamaah diajak untuk menjadikan shalat sebagai sarana penyucian jiwa, bukan sekadar pemenuhan kewajiban. “Shalat yang ditegakkan dengan benar akan menjadi cahaya, penenang, dan penuntun dalam kehidupan,” ujarnya sebelum mengakhiri kajian dengan doa.
