Pentingnya Membersihkan Hati dalam Memikul Amanah Kehidupan
BOJONEGORO, Pentingnya membersihkan hati sebagai fondasi dalam menjalankan amanah kehidupan, baik di ranah keluarga, sosial, maupun keagamaan, menjadi pokok bahasan dalam sebuah majelis pengajian yang digelar di Bojonegoro, Jum’at (5/12/2025).
BOJONEGORO,
Pentingnya membersihkan hati sebagai fondasi dalam menjalankan amanah
kehidupan, baik di ranah keluarga, sosial, maupun keagamaan, menjadi pokok
bahasan dalam sebuah majelis pengajian yang digelar di Bojonegoro, Jum’at
(5/12/2025).
Dalam tausiyahnya, KH. Muh. Shofiyullah
menegaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya menuntut kesalehan lahiriah, tetapi
juga kebersihan batin. Hal itu merujuk pada firman Allah dalam Surah
Al-Muddatstsir ayat 1–4, yang menjadi salah satu ayat awal turunnya wahyu dan
menandai dimulainya misi dakwah Nabi Muhammad SAW.
“Perintah ‘membersihkan pakaian’
dalam ayat tersebut oleh banyak ulama dimaknai sebagai perintah membersihkan
hati. Sebab, pada masa itu belum ada kewajiban ibadah yang mensyaratkan
kesucian fisik,” ujar Gus Muh di hadapan jamaah.
Menurut Beliau, ayat tersebut tidak
hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga relevan bagi siapa pun
yang memikul tanggung jawab dan amanah, termasuk para dai, mubalig, pemimpin,
dan kepala keluarga. Tanpa hati yang bersih, amanah berisiko disalahgunakan,
bahkan agama dapat dijadikan alat untuk meraih kepentingan duniawi.
Gus Muh mengingatkan bahwa
kecintaan berlebihan terhadap dunia (hubbut dunia) menjadi
akar dari banyak persoalan, mulai dari konflik keluarga, penyalahgunaan
kekuasaan, hingga kerusakan lingkungan. Ia menyinggung bencana alam seperti
banjir bandang yang kerap terjadi akibat rusaknya hutan dan lingkungan, yang
tak lepas dari kepentingan manusia yang mengedepankan keuntungan pribadi.
“Ketika amanah tidak dilandasi
kebersihan hati, kekuasaan dan harta justru berubah menjadi sumber kerusakan,”
katanya.
Dalam konteks kehidupan rumah
tangga, Beliau menilai banyak persoalan, termasuk meningkatnya angka perceraian
tidak semata-mata disebabkan kekurangan materi, tetapi juga karena kesenangan
dunia, gaya hidup, dan ketidakmampuan mengendalikan nafsu.
Lebih lanjut, jamaah diajak untuk
menghadirkan hati sepenuhnya dalam setiap aktivitas, terutama dalam ibadah.
Salat, membaca Al Quran, hingga aktivitas keseharian seperti makan dan bekerja,
menurutnya, tidak akan menghadirkan ketenangan jika hati dipenuhi kegelisahan
dan pikiran yang tercerai-berai.
“Kita sering berada di satu tempat,
tetapi hati dan pikiran berada di tempat lain. Akibatnya, tidak ada ketenangan
dan kenikmatan yang benar-benar dirasakan,” ujarnya.
Kajian tersebut ditutup dengan ajakan untuk terus membersihkan hati dari ambisi berlebihan dan kegelisahan terhadap masa depan, tanpa mengabaikan ikhtiar. Dengan hati yang bersih, manusia diharapkan mampu mensyukuri nikmat yang ada, menikmati setiap proses kehidupan, serta menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
