Detail Berita

Pentingnya Persiapan Hati untuk Meraih Pertolongan Allah

Bojonegoro – Melanjutkan kajiannya, Ustadz Rifki memaparkan pentingnya menjaga wirid dan memantaskan diri agar layak menerima maddad atau pertolongan dari Allah SWT. Kajian tersebut bersumber dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, yang diselenggarakan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Jum’at, (14/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro – Melanjutkan kajiannya, Ustadz Rifki memaparkan pentingnya menjaga wirid dan memantaskan diri agar layak menerima maddad atau pertolongan dari Allah SWT. Kajian tersebut bersumber dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, yang diselenggarakan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Jum’at, (14/11/2025).

Ustadz Rifki membuka kajian dengan mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan wirid, yakni rutinitas ibadah yang dijalankan secara istiqamah seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan salat malam. Menurutnya, Allah seringkali memberikan warid, anugerah dan pencerahan ilahi melalui pintu wirid yang dijaga seseorang.

“Selama masih di dunia, kita masih memiliki kesempatan beramal. Di alam kubur sudah tidak ada puasa, tidak ada membaca Al-Qur’an. Karena itu, selagi diberi waktu, wirid harus dijaga,” ujarnya.

Dalam penjelasannya mengenai maddad; bantuan Allah yang berupa kemenangan, ilmu, maupun makrifat, Ustadz Rifki menekankan bahwa semua itu diberikan sesuai dengan kesiapan hati (istidad) seorang hamba. Ia mencontohkan beberapa peristiwa sejarah yang menunjukkan bagaimana pertolongan Allah tertahan akibat kurangnya kesiapan batin.

Pada Perang Uhud, misalnya, Allah telah menjanjikan bantuan kepada kaum Muslim. Namun, ketika sekelompok pasukan pemanah meninggalkan pos sesuai larangan Nabi Muhammad SAW, kondisi itu menyebabkan kemenangan yang semula di depan mata menjadi tertunda.

“Kemenangan itu tidak turun karena wadah hati para sahabat saat itu belum siap. Maddad itu seperti air: hanya bisa masuk ke wadah yang terbuka, bersih, dan tidak tertutup,” jelasnya.

Contoh lain muncul pada Perang Hunain. Ketika jumlah pasukan Muslim lebih besar dari biasanya, sebagian sahabat merasa percaya diri berlebihan dan mengandalkan jumlah, bukan lagi tawakal kepada Allah. Ketidaksempurnaan kesiapan batin itu membuat kemenangan tertunda hingga mereka kembali merendahkan diri dan bertobat.

Selanjutnya, Ustadz Rifki mengutip ayat Al-Qur’an tentang sakinah, ketenangan hati yang hanya diberikan Allah kepada orang beriman. Menurutnya, ketenteraman dalam beribadah tidak mungkin turun kepada hati yang tertutup oleh kesombongan, cinta dunia, atau enggan menerima nasihat.

“Kalau ingin diberi ilmu yang manfaat, makrifat, atau kedekatan dengan Allah, hati harus dipantaskan dulu. Bagaimana mungkin diberi ilmu hakikat jika pintu syariat saja belum dibuka?” katanya.

Ia juga mengutip pesan dari Syeikh Abu al-Hasan al-Syadzili dan Ibnu Arabi yang menekankan pentingnya kemantapan hati kepada guru ruhani (mursyid) agar bimbingannya dapat masuk dan memberikan perubahan batin.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki memaparkan perumpamaan sufi kamil, sufi yang sempurna yang digambarkan seperti gunung. Gunung tampak kokoh dari luar, tetapi di dalamnya berlangsung aktivitas geologis besar tanpa mengubah keteguhan permukaannya. Demikian pula seorang hamba yang stabil batinnya, mampu menahan gelombang spiritual tanpa menampakkan kegelisahan berlebih.

Ustadz Rifki menyebutkan kisah Imam Junaid al-Baghdadi yang pernah menghentikan majelis ketika murid-muridnya larut dalam ekstase spiritual (hal). Imam Junaid menilai kondisi tersebut belum menunjukkan kesiapan ruhani yang matang.

Setelahnya, kajian ditutup dengan penegasan kembali bahwa pertolongan Allah selalu turun sebanding dengan kesiapan diri penerimanya.

“Wurûd al-imdâd bi hasabil isti‘dâd”; bantuan Allah turun sesuai kadar kesiapan hamba-Nya. Maka kalau kita ingin mendapatkan maddad, pantaskan diri kita terlebih dahulu,” ujarnya menutup kajian.