Tafsir Al-Kahfi dan Kisah Ya’juj Ma’juj
Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam kembali mengikuti kajian tafsir Surah Al-Kahfi dan berlanjut pada ayat 98–99 yang membahas kisah Ya’juj dan Ma’juj serta pentingnya menjaga wirid sebagai pelindung diri. Dalam kajian tersebut, KH. A. Maimun Syafi’i menekankan bahwa seluruh kekuatan makhluk, termasuk bangsa Ya’juj Ma’juj, tetap berada dalam kendali Allah SWT, Sabtu (15/11/2025).
Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam kembali mengikuti kajian
tafsir Surah Al-Kahfi dan berlanjut pada ayat 98–99 yang membahas kisah Ya’juj
dan Ma’juj serta pentingnya menjaga wirid sebagai pelindung diri. Dalam kajian
tersebut, KH. A. Maimun Syafi’i menekankan bahwa seluruh kekuatan makhluk,
termasuk bangsa Ya’juj Ma’juj, tetap berada dalam kendali Allah SWT, Sabtu
(15/11/2025).
Kajian
diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan pengantar bahwa ayat yang dikaji
berkaitan dengan gambaran perilaku Ya’juj Ma’juj sebagaimana disebutkan dalam
berbagai riwayat klasik. Mbah Mun menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj
digambarkan sebagai kaum yang merusak, rakus, dan tidak mengenal batas,
termasuk menghabiskan air laut dan merusak apa pun yang mereka lalui.
Meski
digambarkan sangat kuat, Mbah Mun menegaskan bahwa dalam sejumlah riwayat,
Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat memerangi atau menyentuh orang-orang yang menjaga
wirid dan zikir. “Wirid itu benteng ruhani. Ayat Kursi, tasbih, tahmid, dan
takbir bukan sekadar bacaan, tetapi penjaga diri,” ujarnya.
Beliau
mengingatkan jamaah untuk membiasakan membaca basmalah pada berbagai aktivitas;
masuk rumah, makan, hingga saat berwudu dan membaca Al-Qur’an. Penceramah juga
menyinggung riwayat tentang pentingnya menyebut nama Allah karena berdampak
pada keturunan, sebagaimana dicontohkan dalam kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW
yang dijaga oleh doa dan keberkahan dari Allah SWT.
Dalam
lanjutan kajian, Mbah Mun menguraikan kisah Nabi Isa yang memohon pertolongan
Allah ketika berhadapan dengan Ya’juj dan Ma’juj. Dalam riwayat tersebut, Nabi
Isa dan para sahabatnya bermunajat memohon keselamatan. Doa mereka dikabulkan
hingga kaum Ya’juj dan Ma’juj musnah bukan oleh manusia, melainkan oleh makhluk
kecil seperti ular dan nyamuk.
“Ini
menunjukkan bahwa sehebat apa pun kekuatan makhluk, tetap tidak berarti di
hadapan Allah. Namrud, raja yang sombong, wafat karena seekor nyamuk. Qarun
yang kaya raya pun binasa,” tambahnya.
Setelah
itu, menurut riwayat yang dikisahkan, Allah mengutus burung-burung besar untuk
membersihkan bumi dari bangkai Ya’juj dan Ma’juj. Kemudian turun hujan yang
menyuburkan bumi, sehingga tanah kembali bersih dan penuh keberkahan.
Selanjutnya,
Mbah Mun memberi penjelasan bahwa setelah Ya’juj dan Ma’juj musnah, menurut
riwayat, bumi kembali makmur. Tumbuhan tumbuh subur, hewan ternak diberkahi,
dan kehidupan menjadi mudah bagi manusia.
Namun
setelah sejumlah masa berlalu, Allah mengutus angin sejuk (rihan thayyibah)
yang mencabut nyawa orang-orang beriman dengan lembut. Setelah itu, dunia hanya
dihuni oleh manusia yang tidak lagi mengenal nilai-nilai moral dan bertingkah
laku seperti hewan.
“Mereka
tidak lagi malu dan tidak mengenal adab. Inilah tanda-tanda akhir zaman sebelum
sangkakala ditiup,” jelasnya.
Di
akhir kajian, Mbah Mun mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari
kisah-kisah tersebut. Beliau menegaskan bahwa segala kekuatan berada di bawah
kuasa Allah, dan manusia harus menjaga hati dengan zikir serta menjauhi
kesombongan.
“Sekuat
apa pun makhluk, dalam sekejap semua bisa hilang. Wirid dan doa adalah
pelindung, dan kesombongan hanya membawa kehancuran,” katanya.
Kajian ditutup dengan doa serta harapan agar jamaah mampu mengamalkan zikir harian dan menjaga kedekatan dengan Allah.
